Butterfly

Rabu, 27 Maret 2013

Studi Tentang Organisasi (SAP)



PERILAKU KEORGANISASIAN
NAMA : Zefanya Putri Listoro
NPM : 17211727
KELAS: 2 EA27
Dosen :Bpk Nurhadi,SE,AK,MM



FAKULTAS MANAJEMEN EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA




I.  Studi Tentang Organisasi
1.Alat untuk mencapai tujuan
Organisasi adalah wadah serta proses kerja sama sejumlah manusia yang terikat dalam hubungan formal dalam rangkaian hirarki untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Organisasi bukanlah tujuan tetapi alat untuk mencapai tujuan. Sebagai bagian dari administrasi, organisasi adalah merupakan wadah dimana kegiatan management dijalankan. Karena itu tujuan dari organisasi adalah juga merupakan tujuan management.
Dalam usaha mencapai tujuan keorganisasian, management memiliki peran agar proses pencapaian tujuan tersebut dapat berlangsung secara efektif (berdaya guna) dan efisien (berhasil guna). Dengan menerapkan prinsip-prinsip management seperti planning, organizing, actuating, controlling dan lain sebagainya tujuan organisasi dapat diupayakan untuk dicapai dengan lebih baik.
Management memberi efektifitas dan efisiensi kerja yang lebih baik bagi suatu organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Dalam mencapai tujuan tersebut, management memanfaatkan sumber daya yang tersedia atau berpotensi.
CIRI-CIRI ORGANISASI
Adapun ciri-ciri dari organisasi adalah :
- Adanya komponen ( atasan dan bawahan)
- Adanya kerja sama (cooperative yang berstruktur dari sekelompok orang)
- Adanya tujuan
- Adanya sasaran
- Adanya keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati
- Adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas
2. Definisi perilaku organisasi
Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana seharusnya perilaku tingkat individu, tingkat kelompok, serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi).
Perilaku organisasi juga dikenal sebagai Studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang Sumber daya manusia dan psikologi industri serta perilaku organisasi.
Dalam perilaku organisasi di dalamnya terdapat tiga dimensi yang berkaitan yaitu ;
a.       Dimensi Konsep, Dimensi ini mencakup Ilmu pngetahuan, sosiologi, antropologi budaya dan seluaruh elemen sosial yang mempengaruhi berdirinya ilmu pengetahuan yang saling berkaitan.
b.      Dimensi Sistem, Dimensi ini mencakup bagaimana proses manajemen yang dilakukan untuk melakukan suatu kegiatan secara efektif dan efisien yang di kemas dengan pendekatan-pendekatan matematis atau logika.
c.       Dimensi Manusia, Dimensi iniadalah faktor penentu dalam organisasi yang tercermin dari ilmu psikologi. karena, adanya organisai adalah adanya manusia.
Ketiga dimensi diatas mencakup polosfi dasar lahirnya ilmu perilaku organisai yang terdiri dari mulitidisiplin ilmu (Antroplogi Kultural, sOsiologi, psIkolOgi dan ManJemen) sehingga dengan penedekatan ilmu-ilmu tersebut perolaku organisai dapat dibahas.dalam tatran konsep ilmu ini membahas seluruh kegiatan organisai yang di dalamnya terdapat, perilaku manusia, budaya, sosial dan sistem yang mendukung adanya organisasi tersebut. sehingga antara manusia dan organisasi dapat saling mempengaruhi.
4.  Pendekatan Mengenai Fungsi Organisasi
Teori pertama yg memiliki berkaitan dengan pendekatan ini adalah teori birokrasi yang diperkenalkan oleh Max Weber, seorang teoritis terkenal sepanjang zaman. Ia mendefinisikan organisasi sebagai sistem suatu aktivitas tertentu yang bertujuan dan berkesinambungan.
Inti dari teori Weber mengenai birokrasi adalah konsep mengenai kekuasaan, wewenang, dan litimasi. Menurut Weber, kekuasaan adlah kemampuan seseorang dalam setiap hubungan social guna mempengaruhi orang lain. Ia juga mengemukakan adanya tiga jenis kewenangan (otoritas) yaitu :
a.       Kewenangan tradisional terjadi ketika perintah atasan dirasakan sebagai suatu yg sudah pantas atau sudah benar menurut ukuran tradisi.
b.      Kewenangan birokratik merupakan bentuk yang paling relevan dalam birokrasi, karena kekuasaan diperoleh dari aturan-aturan birokrasi yang disepakati oleh seluruh anggota organisasi.
c.       Kewenangan karismatik merupakan kekuasaan yang diperoleh karena karisma dari kepribadian seseorang
Teori lain yg berhubungan dengan pendekatan struktur dan fundi organisasi adalah teori system. Menurut Chester Barnard, organisasi hanya dapat berlangsung melalui kerjasama antarmanusia, dan bahwa kerjasama adalah sarana dimana kemampuan individu dipadukan guna mencapai tujuan bersama atau tujuan yg lebih tinggi.
Sementara menurut Daniel Katzdan Robrt Kahn, sebagai suatu system social organisasi memiliki keunikan di dalam kebutuhannya guna memelihara berbagai masukan untuk menjaga agar tetap terkendali. Itu artiny, system memiliki tujuan-tujuan bersama yang mengharuskan menomor duakan kebutuhan individu-individu.
II.Perilaku Individu dan Pengaruhnya terhadap organisasi
Pengertian Perilaku Individu
Perilaku individu adalah sebagai suatu fungsi dari interaksi antara
individu dengan lingkungannya. Individu membawa tatanan dalam
organisasi berupa kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan,
kebutuhan, dan pengalaman masa lainnya.
1.Variabel yang Mempengaruhi Perilaku Organisasi
A. Variabel-Variabel Dependen
Yaitu factor-faktor kunci yang ingin dijelaskan atau diperkirakan dan yang terpengaruh sejumlah factor lain (suatu respons yang dipengaruhi oleh suatu variable bebas.
Variabel-variabel dependen tersebut antara lain :
·         Produktivitas  Yaitu suatu ukuran kinerja yang mempengaruhi keefektifan dan efisiensi.
·         Keabsenan (kemangkiran) Yaitu gagal atau tidak melapor untuk bekerja
·         Pengunduran diri (keluar masuknya karyawan) Yaitu penarikan diri secara sukarela dan tidak sukarela dari suatu organisasi
·         Kepuasan kerja Yaitu suatu sikap umum terhadap pekerjaan seseorang atau selisih antara banyaknya ganjaran yang diterima seorang pekerja dan banyaknya yang mereka yakini seharusnya mereka terima.
B. Variabel-Variabel Independen
1. Variabel-variabel level individu
·         Usia
·         Status perkawinan
·         Jenis kelamin
·         Masa kerja
2. Variabel-variabel level kelompok
3. Variabel-variabel level system organisasi

2. Teori dan Prinsip Motivasi
TEORI MOTIVASI
Motivasi dapat diertikan sebagai faktor pendorong yang berasal dalam diri manusia, yang akan mempengaruhi cara bertindak seseorang. Dengan demikian, motivasi kerja akan berpengaruh terhadap performansi pekerja.
Menurut Hilgard dan Atkinson, tidaklah mudah untuk menjelaskan motifasi sebab :
·         Pernyataan motif antar orang adalah tidak sama budaya yang berbeda akan menghasilkan ekspresi motif yang berbeda pula.
·         Motif yang tidak sama akan diwujudkan dalam berbagai perilaku yang tidak sama.
·         Motif yang tidak sama dapat iekspresikan melalui perilaku yang sama.
·         Motif dapat muncul dalam bentuk-bentuk perilaku yang sulit dijelaskan.
·         Suatu ekspresi perilaku dapat muncul sebagai perwujudan dari berbagai motif.
Berikut ini dikemukakan huraian mengenai motif yang ada pada manusia sebagai
factor pendorong dari prilaku manusia
• Motif Kekuasaan
Merupakan kebutuhan manusia untuk memanipulasi manusia lain melalui keunggulan-keunggulan yang dimilikinya. Clelland menyimpulkan bahwa motif kekuasaan dapat berfifat negatif atau positif. Motif kekuasaan yang bersifat negatif berkaitan dengan kekuasaan seseorang. Sedangkan motif kekuasaan yang bersifat positif berkaitan dengan kekuasaan social (power yang dipergunakan untuk berpartisipasi dalam mencapai tujuan kelompok).
• Motif Berprestasi
Merupakan keinginan atau kehendak untuk menyelesaikan suatu tugas secara sempurna, atau sukses didalam situasi persaingan (Chelland). Menurut dia, setiap orang mempunyai kadar n Ach (needs for achievement) yang berlainan. Karakteristik seseorang yang mempunyai kadar n Ach yang tinggi (high achiever) adalah :
1. Risiko moderat (Moderate Risks) adalah memilih suatu resiko secara moderat
2. Umpan balik segera (Immediate Feedback) adalah cenderung memilih tugas yang segera dapat memberikan umpan balik mengenai kemajuan yang telah dicapai dalam mewujudkan tujuan, cenderung
3. Kesempurnaan (accomplishment) adalah senang dalam pekerjaan yang dapat memberikan kepuasaan pada dirinya.
4. Pemilihan tugas adalah menyelesaikan pekerjaan yang telah di pilih secara tuntas dengan usaha maiksimum sesuai dengan kemampuannya
Motif Untuk Bergabung
Menurut Schachter motif untuk bergabung dapat diartikan sebagai kebutuhan untuk berada bersama orang lain. Kesimpulan ini diperoleh oleh Schachter dari studinya yang mempelajari hubungan antara rasa takut dengan kebutuhan berafiliansi.
• Motif Keamanan (Security Motive)
Merupakan kebutuhan untuk melindungi diri dari hambatan atau gangguan yang akan mengancam keberadaannya. Di dalam sebuah perusahaan misalnya, salah satu cara untuk menjaga agar para karyawan merasa aman di hari tuanya kelak, adalah dengan memberikan jaminan hari tua, pesangon, asuransi, dan sebagainya
• Motif Status (Status Motive)
Merupakan kebutuhan manusia untuk mencapai atau menduduki tingkatan tertentu di dalam sebuah kelompok, organisasi atau masyarakat. Parsons, seorang ahli sosiologi menyimpulkan adanya beberapa sumber status seseorang yaitu :
1.Keanggotaan di dalam sebuah keluarga. Misalnya, seorang anggota keluarga yang memperoleh status yang tinggi oleh karena keluarga tersebut mempunyai status yang tinggi di lingkungannya.
2. kualitas perseorangan yang termasuk dalam kualitas perseorangan antara lain karakteristik fisik, usia, jenis kelamin, kepribadian.
3. Prestasi yang dicapai oleh seseorang dapat mempengaruhi statusnya. Misalnya, pekerja yang berpendidikan, berpengalaman, mempunyai gelar, dsb.
4. Aspek materi dapat mempengaruhi status seseorang di dalam lingkungannya.
Misalnya, jumlah kekayaan yang dimiliki oleh seseorang.
Kekuasaan dan kekuatan (Autoriry and Power). Dalam suatu organisasi, individu yang memiliki kekuasaan atau kewenangan yang formal akan memperoleh status yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu-individu yang ada di bawahnya.
3. Penerapan Motivasi Dalam Organisasi
Lima fungsi utama manajemen adalah planning, organizing, staffing, leading, dan controlling. Pada pelaksanaannya, setelah rencana dibuat (planning), organisasi dibentuk (organizing), dan disusun personalianya (staffing), maka langkah berikutnya adalah menugaskan/mengarahkan karyawan menuju ke arah tujuan yang telah ditentukan. Fungsi pengarahan (leading) ini secara sederhana adalah membuat para karyawan melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan dan harus mereka lakukan. Memotivasi karyawan merupakan kegiatan kepemimpinan yang termasuk di dalam fungsi ini. Kemampuan manajer untuk memotivasi karyawannya akan sangat menentukan efektifitas manajer. Manajer harus dapat memotivasi para bawahannya agar pelaksanaan kegiatan dan kepuasan kerja mereka meningkat.
Berbagai istilah digunakan untuk menyebut kata ‘motivasi’ (motivation) atau motif, antara lain kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish), dan dorongan (drive). Dalam hal ini, akan digunakan istilah motivasi yang diartikan sebagai keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.
Motivasi menunjuk kepada sebab, arah, dan persistensi perilaku. Kita bicara mengenai penyebab suatu perilaku ketika kita bertanya tentang mengapa seseorang melakukan sesuatu. Kita bicara mengenai arah perilaku seseorang ketika kita menanyakan mengapa ia lakukan suatu hal tertentu yang mereka lakukan. Kita bicara tentang persistensi ketika kita bertanya keheranan mengapa ia tetap melakukan hal itu (Berry, 1997).
Suatu organisme (manusia/hewan) yang dimotivasi akan terjun ke dalam suatu aktivitas secara lebih giat dan lebih efisien daripada yang tanpa dimotivasi. Selain menguatkan organisme itu, motivasi cenderung mengarahkan perilaku (orang yang lapar dimotivasi untuk mencari makanan untuk dimakan; orang yang haus, untuk minum; orang yang kesakitan, untuk melepaskan diri dari stimulus/rangsangan yang menyakitkan (Atkinson, Atkinson, & Hilgard, 1983).
Sampai pada abad 17 dan 18, para pakar filsafat masih berkeyakinan bahwa konsepsi rasionalisme merupakan konsep satu-satunya yang dapat menerangkan tindakan-tindakan yang dilakukan manusia. Konsep ini menerangkan bahwa manusia adalah makhluk rasional dan intelek yang menentukan tujuan dan melakukan tindakannya sendiri secara bebas berdasarkan nalar atau akalnya. Baik-buruknya tindakan yang dilakukan oleh seseorang sangat tergantung dari tingkat intelektual orang tersebut. Pada masa-masa berikutnya, muncul pandangan mekanistik yang beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia timbul dari adanya kekuatan internal dan eksternal, diluar kontrol manusia itu sendiri. Hobbes (abad ke-17) mengemukakan doktrin hedonisme-nya yang menyatakan bahwa apapun alasan yang diberikan oleh seseorang atas perilakunya, sebab-sebab terpendam dari semua perilakunya itu adalah adanya kecenderungan untuk mencari kesenangan dan menghindari kesusahan.
 4.Tekanan (Stress) individu
Stress adalah tekanan atau ketegangan yang dihadapi seseorang
dan mempengaruhi emosi, pikiran, serta kondisi keseluruhan dari
orang tersebut.
Faktor pemicu stress disebut stressor
Stressor dibagi menjadi dua, antara lain :
1. Stressor On The Job (dari dalam lingkungan pekerjaan)
a.       Beban kerja berlebih (overload)
b.      Desakan waktu (deadline)
c.       Kualitas pembimbingan rendah/low supervise
d.      Iklim politis tidak aman/low comfort
e.       Umpan balik kerja rendah/low feedback
f.       Wewenang tidak memadai/low authority
g.       Ketidakjelasan peranan/role ambiguity
h.      Frustasi/putus asa
i.        Konflik antar pribadi atau kelompok
j.        Perbedaan nilai individu dan organisasi
k.      Perubahan situasi kantor yang mengejutkan
2. Stressor Off The Job (dari luar lingkungan pekerjaan)
a.       Krisis keuangan pribadi atau keluarga
b.      Permasalahan-permasalahan tentang anak
c.       Permasalahan-permasalahan tentang fisik
d.      Permasalahan-permasalahan dalam perkawinan
e.       Perubahan situasi rumah atau lingkungan
Dampak stressor dipengaruhi oleh berbagai factor yaitu :
1. Sifat stressor
Yaitu pengetahuan individu tentang stressor tersebut dan
pengaruhnya pada individu tersebut
2. Jumlah stressor
Yaitu banyaknya stressor yang diterima individu dalam waktu
bersamaan.
3. Lama stressor
Yaitu seberapa sering individu menerima stressor yang sama
4. Pengalaman masa lalu
5. Tingkat perkembangan



III. Perilaku Kelompok dan Interpersonal
Berbagai perspektif terhadap kelompok
2. Jenis-jenis kelompok
Pengertian Beberapa Jenis Kelompok:
·         Kelompok : dua individu atau lebih yang berinteraksi dan
saling bergantung, yang saling bergabung untuk mencapai tujuan
tertentu.
·         Kelompok Formal : kelompok kerja bentukan yang
didefinisikan oleh struktur oraganisasi dengan penugasan kerja
yang sudah ditentukan. Perilaku-perilaku yang harus ditunjukan di
dalam kelompok ini ditentukan dan diarahkan ke sasaran
organisasi.
·         Kelompok Informal : kelompok yang tidak terstruktur formal
dan tidak ditentukan oleh oraganisasi, dan terjadi karena respons
terhadap kebutuhan akan hubungan sosial. Kelebihannya adalah
kelompok ini bisa memenuhi kebutuhan sosial anggotanya yang
dapat mempengaruhi perilaku dan kinerja anggotanya itu.
·         Kelompok Tugas : orang-orang yang secara bersama-sama
menyelesaikan tugas.
·         Kelompok Kepentingan : orang-orang yang bekerja sama
untuk mencapai tujuan khusus dan yang menjadi perhatian
masing-masing orang.
·         Kelompok Persahabatan: persekutuan sosial yang sering
dikembangkan dari situasi kerja, ditetapkan bersama-sama
karena memiliki satu.
3. Motivasi Pembentukan Kelompok
Pembentukan kelompok diawali dengan adanya persepsi atau perasaan yang sama untuk memenuhi kebutuhan. Setelah itu akan adanya motivasi untuk memenuhinya, lalu akan timbul motivasi untuk memenuhinya, sehingga ditentukanlah tujuan yang sama dan akhirnya interaksi yang terjadi akan membentuk sebuah kelompok.
Pembentukan kelompok sosial tidak hanya tergantung pada kedekatan fisik. tetapi kesamaan di antara anggota – anggotanya. seseorang lebih menyenangi berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. misalnya kesamaan minat, kepercayaan, hobi, usia dsb.
Pembentukan kelompok dilakukan dengan menentukan kedudukan masing – masing anggota ( siapa yang menjadi ketua atau anggota ).
Interaksi yang terjadi suatu saat akan memunculkan konflik. Perpecahan yang terjadi biasanya bersifat sementara karena kesadaran arti pentingnya kelompok tersebut, sehingga anggota kelompok berusaha menyesuaikan diri demi kepentingan kelompok. Akhirnya setelah terjadi penyesuaian, perubahan dalam kelompok mudah terjadi.
setelah adanya interaksi biasanya dalam sebuah kelompok terdapat norma sosial. norma terbentuk dari proses akumulatif interaksi kelompok.
sumber : wikipedia
4. Tahap-tahap pengembangan kelompok
Model Pengembangan Lima Tahap
Sejak pertengahanm dasawarsa 1960-an diyakini bahwa kelompok-kelompok melewati sederetan suatu standar tahpan perkembangan kelompok yaitu: Pembentukan (Forming), Keributan (Strorming), Penomoran (Nomoring), Pelaksanaan (Performing), dan Penundaan (Adjourning). Tahap-tahap tersebut dimaksud sebagai berikut:

1.      Tahap Pembentukan: tahap ini dicirikan oleh banyaknya ketidakpastian mengenai: maksud dan tujuan, struktur, dan kepemimpinan kelompok. Para anggotanya dalam tahap ini menguji-coba untuk menentukan tipe-tipe perilaku apakah yang dapat diterima dengan baik. Tahap ini selesai bila para anggota telah mulai berpikir diri mereka sendiri sebagai bagian dari suatu kelompok.
2.      Tahap Keributan: tahap ini dicirikan dengan adanya konflik di dalam kelompok, artinya para anggota menerima baik eksistensi kelompok, tetapi melawan adanya kendala-kendala yang dikenakan oleh kelompok terhadap individualitas. Lebih lanjut adanya konflik akan mengendalikan kelompok, bila telah lengkap maka terdapat hirarki yang relatif jelas dari kepemimpinan di dalam kelompok.
3.      Tahap Penomoran: tahap ini dicirikan oleh hubungan karib dan kekohesian (kesaling tarikan). Tahap ini selesai bila struktur kelompok telah kokoh dan kelompok itu menyerap perangkat penghargaan dari apa yang mendefinisikan perilaku anggota dengan benar.
4.      Tahap Penundaan: tahap ini dicirikan oleh kelompok yang telah sepenuhnya fungsional dan diterima baik. Kekuatan kelompok telah bergesar dari mencoba memahami satu sama lain kepelaksanaan tugas.
5.      Tahap Penundaan: tahap ini dicirikan oleh kepedulian untuk menyelesaikan kegiatan-kegiatan bukannya melaksanakan tugas.
Dalam tahap ini respon anggota kelompok neraneka ragam ada yang merasa puas, denngan bersenang-senang dalam prestasi kelompok sementara yang lain murung akan kehilangan persahabatan yang diperoleh selama kehidupan kelompok kerja.
Catatan:
a)      Banyak penafsir bahwa tahap-tahap lebih efektif ketika kelompok tersebut melewati empat tahap pertama, dengan alasan bahwa beberapa kondisi tingkat konflik yang tinggi meghasilkan kinerja kelompok yang tinggi.
b)      Pengusul yang terkuat dari model ini tidak mengandaikan bahwa semua kelompok mengikiti proses lima tahapnya dengan cermat atau bahkan tahap IV selalu yang paling disukai.
c)      Permasalahan dalam model ini yaitu dalam memahami perilaku yang berkaitan dengan kerja adalah bahwa model itu mengabaikan konteks organisasional (misal: studi terhadap awak kokpit dalam sebuah pesawat terbang ditemukan bahwa dalam sepuluh menit, tiga orang yang tidak kenal satu sama lain ditugasi untuk terbang bersama-sama untuk pertama kali telah terjadi suatu kelompok berkinerja tinggi). Konteks ini memberikan aturan-aturan, definisi tugas, informasi, dan sumber daya yang diperlukan untuk kelompok itu agar berkinerja. Mereka tidak perlu mengembangkan rencana, membagi peran, menentukan dan mengalokasi sumber daya, memecahkan konflik, dan menemukan norma seperti diramalkan dalam tahap-tahap ini. Karena terjadi banyak perilaku kelompok dalam organisasi terjadi dalam konteks organisasional yang kuat, maka tampaknya model ini tidak dapat diterapkan dalam pencarian dan pemahaman kelompok-kelompok kerja.
5. Ciri-ciri kelompok
Pada saat kelompok berkembang melalui berbagai tahapan perkembangan, mereka mulai memperagakan karakteristik tertentu, untuk memahami perilaku kelompok yang meliputi: kondisi eksternal, sumber daya anggota kelompok, struktur kelompok, proses kelompok, dan tugas-tugas kelompok. Hal-hal tersebut diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
·         sosiometri: adalah suatu teknik analisis untuk mempelajari interaksi kelompok. Sosiometri mengusahakan mencari tahu siapa yang disukai atau tidak disukai orang-orang dan  dengan siapa mereka akan atau bekerja sama. Di dalam mempelajari interaksi perlu suatu informasi denga menggunakan kuesioner atau dengan wawancara antara lain menyangkut: siapa di dalam organisasi itu, ingin berhubungan dengan siapa penyelesaian pekerjaan, dan lain-lain. Sehingga informasi tersebut menciptakan sosiogram.
·         Sosiogram: adalah suatu diagram yang secara grafis memetakan interaksi sosial yang lebih disukai yang diperoleh dari wawancara atau dengan menggunakan kuesioner.
·         Jaringan sosial (sosicial network): adalah suatu perangkat spesifik dari tautan-tautan d antara perangkat terdefinisikan dari individu-individu.
·         Gugus (clusters): adalah kelompok-keolompok yang eksis di dalam jaringan sosial. Gugus tertetap (prescibed clusters): adalah kelompok-kelompok formal seperti: departemen,tim kerja, angkatan,tugas atau komite.
·         Gugus tertetap (prescribed clusters): adalah kelompok-kelompok formal seperti departemen, tim kerja, angkatan tugas atau komite.
·         Gugus muncul (emergent clusters): adalah kelompok-kelompok tak resmi, infomal.
·         Koalisi: adalah gugus individu-individu yang sementara bergabung bersama-sama untuk mencapai suatu maksud yang spesifik.
·         Klik: adalah pengelompokan informal yang lebih permanen yang melibatkan persahabatan.
·         Bintang (stars): adalah individu-individu dengan tautan paling banyak dalam suatu jaringan.
·         Penghubung (laisons): adalah individu-individu yang menghubungkan dua gugus atau lebih tetapi tidak menjadi anggota dari gugus manapun.
·         Jembatan (bridges): adalah individu-individu yan berfungsi sebagai pasak tautan dengan termasuk pada dua gugus atau lebih.
·         Isolat: adalah individu-individu yang tidak dihubungkan ke jaringan.

6. Konsep peran
Individu sebagai makhluk sosial tidak bisa dihindarkan dengan interaksi sosial dan
bentuk-bentuk interaksi sosial yang dijalin. Dilain pihak individu juga tidak dapat lepas dari
situasi tempat ia berada dan situasi ini sangat berpengaruh terhadap kelompok yang terbentuk
akibat situasi tersebut. Dalam hubungan dengan kelompok akan diuraikan berikut ini

7. Model terpadu dari pembentukan dan pengembangan kelompok
Pengertian pembelajaran terpadu:
Pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasan. Salah satu diantaranya adalah memadukan pokok bahasan atau sub pokok bahasan atau bidang studi, keterangan seperti ini disebut juga dengan kurikulum (DEPDIKBUD, 1990: 3), atau pengajaran lintas bidang studi (Maryanto, 1994: 3).
Secara umum pembelajaran terpadu pada prinsipnya terfokus pada pengembangan perkembangan kemampuat siswa secara optimal, oleh karena itu dibutuhkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran. Melalui pembelajaran terpadu siswa dapat pengalaman langsung dalam proses belajarnya, hal ini dapat menambah daya kemampuan siswa semakin kuat tentang hal-hal yang dipelajarinya.pembelajaran terpadu juga suatu model pembelajaran yang dapat dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.dikatakan bermakna pada pembelajaran terpadu artinya,siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu mulai pengalaman langsung dan menghubungkan dengan konsep yang lain yang sudah mereka pahami.hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh tim pengembang D-2 PGSD dan S-2 pendidikan dasar (1997 : 17) yang mengatakan bahwa “ pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa” Pada dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik individu maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik