Butterfly

Tampilkan postingan dengan label serba serbi toraja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serba serbi toraja. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Agustus 2012

Museum Universitas Kagoshima Koleksi Kerajinan Sirope Toraja



Ilustrasi : Corbis
MAKALE - Sirope atau lebih dikenal masyarakat Toraja dengan nama Dalle Sissikan merupakan sejenis biji-bijian rumput liar yang tumbuh di pekarangan rumah, kebun, maupun sawah. Sehingga seringkali dianggap sebagai tanaman yang tidak berguna.

Namun ternyata, biji-bijian Sirope yang banyak tumbuh di wilayah Toraja bisa disulap menjadi sebuah karya seni yang bernilai tinggi.

Peneliti Ethno botani asal Jepang, Prof Ochiai Yukino mengaku, sangat tertarik terhadap karakteristik dan kegunaan tanaman Sirope. Dirinya mengaku, sudah melakukan penelitian tanaman Sirope di Toraja pada 2000 lalu.

Saat ditemui langsung, Prof Ochiai didampingi peneliti dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Agnes Rampisela mengatakan, jenis tanaman Sirope banyak terdapat di kawasan Asia Tenggara seperti Laos, Thailand, dan Indonesia. Biji-bijian Sirope bisa menghasilkan karya seni yang luar biasa dan bernilai bisnis tinggi.

Di negara Laos, Thailand, dan Myanmar, biji Sirope banyak dilekatkan dan digunakan pada bahan kain dan baju. Tapi di Toraja, biji Sirope lebih banyak dijadikan sebagai bahan kerajinan tangan.

Menurutnya, Sirope memiliki keunggulan dan keistimewaan, yaitu kuat, praktis, dan cantik. Biji Sirope memiliki lubang alami yang memudahkan untuk didesain menjadi perhiasan dalam berbagai macam model. Mulai dari gantungan kunci, gelang, kalung hingga tas. Biji Sirope juga bisa didesain menjadi tirai pintu dan jendela.

“Sekira 650 jenis koleksi benda-benda hasil kerajinan Sirope dari Toraja dan negara Asia Tenggara saat ini disimpan dan dipamerkan di museum Universitas Kagoshima Jepang,” kata Ochiai, di Sanggar penelitian Sirope di kota Rantepao, Selasa (11/10/2011).

Sayangnya, Sirope yang merupakan sumber daya alam lokal Toraja belum ditanam khusus oleh masyarakat Toraja. Padahal, untuk mengembangbiakkan tanaman Sirope tidak memerlukan keahlian khusus karena bisa tumbuh di mana saja. Hanya butuh waktu enam bulan untuk memanen biji Sirope dan akan tumbuh terus menerus. Selain itu, biji Sirope bisa bertahan sampai ratusan tahun.

“Tidak terlalu sulit mendesain biji Sirope menjadi hasil karya seni yang luar biasa. Tingkat kesulitan tergantung dari desain yang akan dibuat,” kata dia.

Prof Ochiai menambahkan, selain kerajian tangan, biji Sirope juga bisa diolah menjadi minuman yang berkhasiat untuk kesehatan. Minuman dari biji Sirope mengandung zat protein, lemak, dan zat besi yang berguna menjaga kesehatan.

Peneliti Unhas Agnes Rampisela menyatakan, sekira 18 koleksi benda-benda berharga hasil kerajinan Sirope, saat ini dipamerkan di sanggar penelitian Sirope Kota Rantepao untuk diperkenalkan kepada masyarakat Toraja.

Kerajinan Sirope di Toraja hanya ada di beberapa tempat, seperti di kawasan objek wisata Lemo di Kecamatan Makale Utara dan kawasan objek wisata Kete Kesu Kecamatan Kesu. Namun, jumlah pengrajin Sirope di dua kawasan wisata itu pun tidak banyak. Bahkan, kerajinan Sirope perlahan-lahan mulai ditinggalkan.

“Kami berharap tumbuhan Sirope bisa dilestarikan dan dikembangkan menjadi karya seni khas Toraja,” katanya.(Joni Lembang/Koran SI/rhs)
http://kampus.okezone.com/read/2011/10/11/373/513727/museum-universitas-kagoshima-koleksi-kerajinan-sirope-toraja

Wisata Lemo Butuh Perhatian Pemerintah



Batu Lemo Tana Toraja (Foto: Wordpress)

OBJEK wisata di Indonesia memang banyak. Namun, banyak di antaranya yang harus diperbaiki dan butuh perhatian pemerintah. Salah satunya, kawasan wisata Lemo, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Kawasan wisata Lemo di Kelurahan Rantelemo, Kecamatan Makale Utara, Kabupaten Tana Toraja, butuh perhatian dari pemerintah setempat. Pasalnya, kuburan batu yang menjadi objek andalan wisata Lemo terkesan tidak terurus dengan baik.

Puluhan liang di dua lokasi kuburan batu alam yang ada di kawasan wisata Lemo sangat memprihatinkan. Di sekitarnya, sudah ditumbuhi rumput liar dan berlumut.

Rumput liar itu terkesan dibiarkan begitu saja, hingga beberapa pintu liang mulai tertutup dengan ilalang. Padahal, liang dan kuburan batu merupakan daya tarik bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Lemo yang sudah dikenal hingga mancanegara.

"Setiap hari, puluhan wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke tempat ini. Sayangnya, perhatian pemerintah terhadap objek wisata yang ada di Lemo masih minim," kata Tomas (60), salah satu penjaga pintu masuk kawasan wisata Lemo saat ditemui Sindo, Minggu (23/10/2011).

Dia mengatakan, di kawasan wisata Lemo juga terdapat objek wisata berupa tiga rumah adat Toraja yang kondisinya nyaris roboh.

Tiga rumah adat itu sebagai bukti sejarah bagi masyarakat Toraja bahwa pernah ada tiga penguasa yang menguasai daerah Lemo dan Sarira. Tiga penguasa itu pun masing-masing menempati tiga rumah adat yang saat ini dijadikan objek wisata di kawasan wisata Lemo.

Menurutnya, pada awal 2011 lalu, sejumlah anggota komisi II DPRD Tana Toraja meninjau langsung tiga rumah adat di kawasan wisata Lemo. Para legislator itu pun berjanji akan memperjuangkan anggaran renovasi tiga rumah adat itu.

Namun hingga menjelang akhir tahun anggaran 2011, janji wakil rakyat yang duduk di komisi II DPRD Tana Toraja belum juga terealisasi. Sementara, kondisi tiga rumah adat yang pernah ditinggali tiga penguasa daerah setempat nyaris ambruk karena tidak ada perhatian dari pemerintah.

"Kasihan, tiga rumah adat salah satu bukti sejarah dan objek wisata di Lemo kondisinya nyaris roboh. Sudah 30 tahun tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah," paparnya.

Bupati Tana Toraja Theofilus Allorerung menyatakan, salah satu kendala yang dihadapi pemerintah kabupaten (Pemkab) Tana Toraja dalam melakukan pembenahan objek wisata yakni pengelolaan objek wisata masih dikelola oleh yayasan ataupun keluarga.

Sementara, ada aturan baru, pemkab dilarang membangun atau merenovasi sebuah bangunan di atas tanah yang bukan aset pemerintah. Begitu pula dengan tiga rumah adat di kawasan wisata Lemo yang dibangun di atas tanah bukan milik pemerintah.

"Pemerintah punya niat untuk membenahi semua objek wisata di wilayahnya. Tapi, niat itu berbenturan dengan aturan yang tidak memperbolehkan pemerintah membangun di atas tanah bukan milik pemerintah," jelasnya.

Anggota komisi II DPRR Tana Toraja Mince Sosang membenarkan komisi II DPRD pernah meninjau langsung kondisi tiga rumah adat di kawasan wisata Lemo.

Dirinya menyatakan, komisi II DPRD sudah mengajukan usulan anggaran renovasi tiga rumah adat itu melalui anggaran pendapatan belanja daerah perubahan (APBD-P) tahun anggaran 2011.

"Tiga rumah adat di kawasan wisata Lemo perlu mendesak direnovasi. Kalau tidak, tiga rumah adat itu akan roboh," tutup legislator asal Partai Golkar itu.
http://travel.okezone.com/read/2011/10/24/407/519489/wisata-lemo-butuh-perhatian-pemerintah

Wisatawan Jerman Kagumi Keindahan Toraja



Tana Toraja (Foto: makassartravel)

MAKALE - Rombongan Baden-baden Und Rastatt, wisatawan mancanegara asal Jerman mengakui mengagumi keindahan alam yang dimiliki kabupaten Tana Toraja.

“Its beautifull. Kami sangat senang melihat keindahan alam Tana Toraja. Pemandangan seperti ini tidak kami jumpai di beberapa kota yang sudah dikunjungi rombongan Baden-baden Und Rastatt Jerman,” ujar juru bicara rombongan Baden-baden Und Rastatt asal Jerman, Tabea yang juga lancar berbahasa Indonesia usai diterima secara resmi oleh Pemkab Tana di rumah jabatan bupati di Kota Makale, Sulawesi Selatan, Kamis(27/10).

Tabea mengatakan, kondisi alam Tana Toraja mirip dengan daerahnya di Baden-baden, sebuah kota kabupaten di wilayah Jerman bagian selatan. Yang beda, iklim Tana Toraja lebih unggul karena beriklim tropis dan sedikit hangat dibanding daerahnya.

Selain terpesona dengan alam Tana Toraja, Rombongan Baden-baden Und Rastatt asal Jerman itu juga tertarik dengan budaya, adat istiadat serta kerukunan umat beragama di Tana Toraja. Selama di Tana Toraja, rombongan Baden-baden Und Rastatt sudah mengunjungi sejumlah objek wisata di Toraja.

“Wisatawan yang datang ke Tana Toraja akan betah tinggal di Toraja ditengah alam yang luar biasa indahnya,” ujar dia yang masih berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Jerman.

Kepala rombongan Baden-baden Und Rastatt asal jerman, Margarete Eges mengatakan Tana Toraja sebagai ikon pariwisata di Sulawesi Selatan memiliki keunikan dan alam yang indah dan tidak dimiliki daerah lainnya. Itu salah satu daya tarik wisatawan berkunjung ke Tana Toraja. Sudah banyak rombongan wisatawan asal Jerman yang datang ke Tana Toraja dan diyakini akan banyak lagi wisatawan asal Jerman yang bakal mengunjungi Tana Toraja.

Menurutnya, pemerintah kabupaten (Pemkab) Tana Toraja perlu mengubah cara berpikir dalam pengelolaan sektor pariwisata di daerahnya. Pemerintah setempat tidak perlu mengejar target wisatawan yang banyak tetapi memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan.

Dicontohkan, di negara Bostfana yang pernah dikunjunginya, jumlah wisatawan yang datang tidak banyak tetapi standar pelayanan yang diberikan oleh pemerintah maupun masyarakat setempat sangat memuaskan. Ini akan membuat wisatawan betah lebih lama tinggal dan mengeluarkan uang lebih banyak yang akan dinikmati masyarakat setempat.

“Tana Toraja sangat indah dan wisatawan akan betah. Semakin lama wisatawan tinggal di Tana Toraja, semakin banyak uang yang akan mereka keluarkan,” ujarnya.

Dia berharap, pemkab Tana Toraja bisa menjalin kerjasama antar kota dengan pemerintah di Baden-baden Jerman. Dengan begitu, akan lebih banyak lagi warga Jerman yang berkunjung ke Toraja. Selain membawa keuntungan ekonomi bagi masyarakat Toraja, kedua belah pihak bisa saling melengkapi satu sama lain,” ujarnya.

Sekretaris kabupaten (Sekkab) Tana Toraja mengatakan, pemkab Tana Toraja masih menjajaki hubungan kerjasama dan hubungan bilateral (Sister City) di berbagai bidang diantaranya, pariwisata, sosial dan kemasyarakatan antara kabupaten Tana Toraja dan kota Baden-baden di Jerman.

“Kami masih menjajaki kerjasama dengan kota Baden-baden di Jerman merupakan langkah yang positif. Tapi kerjasama itu merupakan langkah yang positif,” tandasnya. Joni lembang
http://travel.okezone.com/read/2011/10/28/408/521627/wisatawan-jerman-kagumi-keindahan-toraja

Let's escape to Tana Toraja


Bandara Tana Toraja Dapat Rp500 M




SINGAPURA -- Guna merampungkan revitalisasi Bandara Tana Toraja, Pemprov Sulsel mengusulkan anggaran Rp500 miliar yang merupakan dana sharing APBD dan APBN. Diharapkan tahun 2014 bandara yang akan dijadikan pintu masuk wisatawan itu bisa rampung.
Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Sulsel, Andi Masykur Sultan, kepada FAJAR yang menyertai kunjungan kerja ke Singapura-Malaysia, Jumat, 3 Juni, mengatakan, saat ini proses tender telah berjalan dan segera melajutkan proyek pengerjaan pengembangan kawasan.
Luas lahan Bandara Tana Toraja yang merupakan pindahan dari Bandara Pongtiku mencapai 225 hektare dengan panjang runway 1.900 meter. Ini merupakan lahan baru karena Bandara Pongtiku dianggap sudah tak layak karena tak bisa dikembangkan dengan terbatasnya lahan. Lokasi baru akan pindah ke Bonto Kunek, Kecamatan Makengdek Tana Toraja.
"Seluruh studi ditanggung Pemprov Sulsel, sedangkan lahan oleh Pemerintah Kabupaten Tana Toraja. Tahun ini mulai berjalan yakni tahap pematangan lahan," jelas Masykur.
Penganggaran untuk pembangunan Bandara Tana Toraja, lanjut mantan Sekretaris Kabupaten Luwu ini, dikucurkan bertahap untuk lima tahun ke depan. Bandar udara ini menjadi bandara kedua terbesar di Sulsel karena diperuntukkan bisa melayani pesawat berbadan lebar untuk penerbangan regional.
"Kalau melihat panjang runway, maka bandara ini bisa melayni pesawat jenis Boing 737-100 seater. Bandara ini nanti juga memiliki dua runway sehingga berbeda dengan bandara perintis yang ada di Sulsel yang hanya memiliki satu runway dan panjangnya antara 900-1.200 meter," kata Masykur.
Hadirnya Bandara Tana Toraja yang belum diberi nama tersebut akan empat bandara perintis lain yang sudah ada yakni, Bandara Bone, Bandar Sekorampi Luwu, Bandara Masamba Lutra, Bandara Selayar, dan bandara swasta milik PT Inco di Sorowako Luwu Timur.
Sementara itu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menuturkan Bandara Tana Toraja salah satu prioritas Pemprov Sulsel untuk tiga tahun ke depan. Bandara tersebut akan dijakan destinasi tujuan wisata.
"Untuk mencapai Tana Toraja dibutuhkan waktu sembilan jam. Makanya dengan kehadiran bandara tersebut diharapkan bisa connecting flay bandara nasional lain sehingga mempermudah kunjungan wisata. Perjalanan kami ke Singapura-Malaysia untuk mempromosikan itu. Destinasi kunjungan wisata ke Sulsel terbesar berasal dari kedua negara ini," kata Syahrul.
Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar yang baru saja connect dengan Singapura, lanjut Syahrul, akan memudahkan warga Singapura atau Malaysia masuk ke Sulsel. "Kami mendengar keluhan dari para biro perjalan wisata, bahwa memang Tana Toraja kalau bangkit, ya harus dipermudah orang masuk di sana. Tana Toraja sangat susah diraih dengan perjalanan darat," ungkap Syahrul. (aci)
http://www.fajar.co.id/read-20110603230747-bandara-tana-toraja-dapat-rp500-m

Terbanglah ke Tana Toraja




Bandara Pongtiku Tana Toraja

MAKASSAR, FAJAR -- Transportasi ke Tana Toraja sebagai destinasi wisata akan semakin mudah. Mulai awal 2012 mendatang, pesawat komersial akan melayani rute Makassar-Tana Toraja setiap hari.
HAL ini membuat Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, optimis Tana Toraja sebagai destinasi utama wisata di Sulsel akan kembali bergairah. Hal tersebut diungkapkan Syahrul saat hadir pada puncak peringatan HUT Tana Toraja ke-764, di Makale, Tana Toraja, Selasa, 15 November.
Dikatakan Syahrul, Bandara Pongtiku Tana Toraja saat ini dalam tahap pengembangan sama seperti bandara perintis di Kabapaten Selayar dan Luwu. Bandara tersebut nantinya akan memiliki landasan pacu dan peningkatan kapasitas terminal. Proyek yang memakai dana APBN dan APBD tersebut diharapkan selesai awal tahun depan sehingga maskapai komersial rutin menerbangi Tana Toraja.
"Sektor pariwisata daerah ini akan bangkit dengan hadirnya penerbangan komersial. Toraja-Makassar yang selama ini hanya diterbangi sekali dalam seminggu. Kita harapkan adanya perluasan bandara menambahkan frekusensi pesawat setiap hari," kata Syahrul.
Syahrul mengatakan, wajah Tana Toraja layak menjadi cermin Indonesia. Maklum, wajah Toraja sampai ke pelosok dunia lain karena memiliki budaya luhur yang tidak ada duanya di dunia dan itu menjadi kunjungan wisata.
''Saya melihat Toraja makin maju karena menghadirkan kehidupan yang lebih dengan pemerintahan yang berpihak kepada rakyat,'' ungkap Syahrul.
Pemerintah Sulsel juga telah menjadikan even "Lovely December" sebagai agenda tahunan pariwisata. Tahun ini, "Lovely December" diramaikan serangkaian kegiatan spektakuler. Salah satunya akan digelar pesta kembang api yang menelan anggaran Rp1,2 miliar.
Sementara itu, Peringatan HUT Tana Toraja kemarin digelar meriah di Lapangan Makale. Hadir Ketua DPRD Sulsel HM Roem, Bupati Toraja Utara Fredrik Sorring, muspida dan tokoh masyarakat setempat, serta sejumlah pimpinan SKPD di lingkup Pemprov Sulsel.
Usai memberi sambutan, Syahrul juga meresmikan Kantor Cabang Sulselbar Cabang Tana Toraja serta memberikan bantuan ternak sapi senilai Rp3,2 miliar dan sektor perkebunan Rp6 miliar.
Sebelumnya, Bupati Toraja, Theofilus Allorerung, memberikan cenderamata berupa sepasang patung kerbau (tedong bonga dan tedong hitam) untuk Syahrul. Pemberian cenderamata itu sebagai bentuk perhatian Pemprov Sulsel akan kemajuan Tana Toraja.
Dalam sambutannya Theofilus mengatakan, pertumbuhan ekonomi Tana Toraja saat ini mencapai angka memuaskan. Yakni tujuh persen naik dibanding periode tahun sebelumnya yang 4,2 persen. Selain itu, Pemkab Tana Toraja juga konsentrasi menghadirkan layanan untuk pendidikan, kesehatan, serta peningkatan sektor pertanian dan perkebunan. (aci)
http://www.fajar.co.id/read-20111115231401-terbanglah-ke-tana-toraja'

Kopi Toraja Terenak di Indonesia




INDONESIA rupanya memiliki banyak jenis kopi seperti dari Lampung, Bali, Aceh, dan Toraja. Namun dari sekian banyak jenis kopi, yang enak berasal dari Toraja.

"Kopi Toraja itu paling enak dari semua jenis kopi yang ada. Bahkan kita pun pernah melakukan riset ke seluruh masyarakat Indonesia, ternyata paling banyak disukai adalah kopi Toraja," ujar Hester Pamela selaku Marketing Communication Manager PT Kaffein Indonesia saat berkunjung ke redaksi okezone di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (15/11/2011).

Selain paling enak, katanya, kopi Toraja memiliki aroma yang sangat khas ketimbang kopi lainnya.

"After taste dari kopi Toraja itu sangat ringan, rasanya pun tidak terlalu berat," tambahnya.

Dikatakannya lagi, kopi Toraja tidak memiliki rasa yang sangat kuat.

"Kopi Toraja itu sangat bersih di mulut. Rasanya ‘clean’ banget dan kalau minum kopi Toraja tidak menimbulkan rasa eneg di tubuh Anda," tuturnya.

Dia kembali mengungkapkan, “Kopi milik Indonesia itu sangat diminati oleh masyarakat luar negeri karena negara di luar Indonesia sangat susah menanam kopi," tandasnya. 
http://www.okefood.com/read/2011/11/16/299/530390/kopi-toraja-terenak-di-indonesia

Toraja Highland Jazz 2011



Toraja Highland Jazz 2011



Toraja Highland Jazz 2011
Saturday, December 17, 2011
At Lapangan Bola Makale - Tana Toraja

Featuring:
Harry Mantong
Syaharani
Gilang Ramadhan
De Lagaligo Syndicate
Daeng Serang
Toraja Traditional Dance & Music

Ticket Price: Rp 50.000
Contact: +62 821 70707707

Pangopango, Agrowisata Baru di Tana Toraja



Agrowisata Pangopango di Kecamatan Makale (Foto: Joni/okezone)

TANA Toraja mengembangkan pariwisata berbasis lingkungan. Inovasi ini menjadikan kawasan Pangopango sebagai objek wisata alam dan agro wisata.

Pangopango letaknya di perbatasan Kelurahan Sapan dan Kelurahan To’sapan Kecamatan Makale Selatan atau sekira tujuh kilometer dari Kota Makale, Ibu Kota Kabupaten Tana Toraja. Pangopango juga berada di tengah-tengah perbatasan beberapa kecamatan. Di sebelah Utara berbatasan dengan Kota Makale, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Mengkendek, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bonggokaradeng dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Gandasil.

Pangopango merupakan kawasan hutan hujan tropis sangat pontensial dikembangkan sebagai objek wisata alam. Kesejukan alam yang masih alami mulai terasa saat memasuki kawasan Pangopango. Disamping kiri kanan jalan ditumbuhi berbagai jenis tanaman hutan yang masih asri. Sepanjang perjalanan, pengunjung bisa melihat panorama alam dengan latar pengunungan biru yang menjulang tinggi.

Di atas puncak Pangopango dengan ketinggian sekira 1.100 meter dari permukaan laut, pengunjung bisa melihat berbagai keindahan panorama alam. Hamparan sawah, bukit kapur hingga pengunungan biru yang menjulang tinggi diselimuti kabut terpampang di depan mata.

Jika cuaca cerah, wajah seluruh Kota Makale dan ¾ kota Rantepao Ibu Kota Toraja Utara terlihat jelas dari puncak Pangopango. Untuk mengembangkan potensi Pangopango sebagai objek wisata berbasis lingkungan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Toraja terus berbenah. Saat ini, sementara dibangun akses jalan menuju kawasan wisata Pangopango.

“Pangopango memiliki panorama alam luar biasanya indahnya. Sangat disayangkan jika potensi wisata itu tidak dimanfaatkan,” ujar bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung.

Selain berpotensi menjadi objek wisata alam, Pangopango juga berpotensi sebagai daerah agrowisata. Di sekitar Pangopango terdapat sumber mata air yang tidak pernah kering. Sumber mata air itu dimanfaatkan masyarakat setempat untuk minum dan pertanian didukung dengan tanah yang subur. Hasil pertanian dan perkebunan masyarakat setempat hingga saat ini belum tercemar karena belum menggunakan pestisida maupun pupuk nonorganik. Pengolahan pertanian dan perkebunan pun masih bersifat tradisional.

Rencananya, Pemkab Tana Toraja akan menjadikan kawasan Pangopango sebagai agrowisata. Setiap pengunjung yang datang berwisata di Tana Toraja bisa langsung menikmati hasil pertanian dan perkebunan dengan memetik langsung dari kebun milik masyarakat. Bahkan, di kawasan sekitar Pangopango akan dijadikan sebagai daerah percontohan tanaman markisa, tamarillo, dan wortel.

“Tahun 2012, Pemkab Tana Toraja akan menggelontorkan dana sekitar Rp2 miliar untuk menyulap Pangopango sebagai kawasan agro wisata,” tutup Theofilus.
http://travel.okezone.com/read/2012/01/09/408/553853/pangopango-agrowisata-baru-di-tana-toraja

Belanja "Online" Koleksi Terkini Toraja Melo





KOMPAS.com/Wardah Fajri
Selain merancang koleksi tas tenun Toraja, Label Toraja Melo juga menghadirkan koleksi dompet koin dan tempat pensil dari tenun Toraja dalam ragam warna dan motif dengan harga Rp 50.000-Rp 60.000.

KOMPAS.com - Kain tenun Toraja, buatan tangan perempuan dari perkampungan Sa'Dan di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi, tampil berbeda dengan sentuhan Toraja Melo. Kini, produk Toraja Melo semakin mudah didapatkan untuk memenuhi kebutuhan fashion dan gaya hidup kalangan urban, melalui penambahan koleksi di butik dan sistem belanja online.

Label Toraja Melo, menghadirkan tenun Toraja melalui berbagai koleksi produk fashion yang gaya, kaya nilai tambah. Seperti tote bag tenun bermotif garis dengan desain praktis, fungsional namun fashionable, dan tentunya bergaya etnik berpadu dengan unsur kulit yang klasik. Juga tas atau dompet tenun fungsional yang unik, untuk melindungi berbagai gadget, seperti ponsel pintar dan tablet.

"Toraja Melo semakin dikenal sejak giat berpromosi, branding dua tahun terakhir, melalui 70 pameran dalam dan luar negeri. Kami ingin terus membawa tenun Toraja dalam keseharian pada 2012-2013 ini melalui berbagai strategi," jelas Dinny Jusuf dalam acara peluncuran website belanja online Toraja Melo, di Butik Toraja Melo, Kemang Timur, Jakarta, Senin (13/2/2012).

Memperluas butik dan menambah koleksi baru berbagai produk fashion dari tenun Toraja menjadi strateginya. Selain juga menyediakan fasilitas belanja online, melalui website www.torajamelo.com, yang memudahkan kalangan urban, terutama menengah atas, yang menjadi sasaran Toraja Melo.

"Butik ingin memperbanyak dan menguatkan komunitas, untuk melestarikan tenun Toraja. Nantinya akan ada acara rutin di butik seperti kumpul bareng, untuk edukasi sekaligus meningkatkan kepedulian mengenai tenun Toraja. Sementara website untuk belanja online, ini bukan sekadar trading seperti kebanyakan situs belanja pada umumnya. Toraja Melo berkolaborasi dengan anak-anak muda untuk mengembangkan website ini," jelasnya.

Koleksi baru
Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, produk Toraja Melo yang diproduksi secara terbatas (bukan produksi massal), juga menghadirkan koleksi baru. Tenun Toraja tak hanya hadir dengan motif dan warna tradisional seperti merah, hitam, kuning, putih. Namun juga menggunakan warna-warna baru seperti warna pastel dengan motif yang juga lebih berkembang.

Nina Jusuf, desainer tas dan sepatu Toraja Melo, mengatakan koleksi Toraja Melo semakin berkembang, baik dari segi motif, warna, juga desain. "Koleksi terbaru berupa desain tas menggunakan mote, juga tenun Toraja yang terbolang langka seperti Paruki, dibuat menjadi tote bag," jelas Nina kepada Kompas Female.

Menurut Nina, koleksi tas tenun Toraja Melo, dengan kombinasi kulit, memiliki karakter desain yang praktis dan fungsional. Koleksi tas Toraja Melo, juga dirancang untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan gaya. Mulai kasual, formal, untuk menunjang penampilan perempuan bekerja bahkan untuk acara pesta, jelas desainer berlatar belakang pendidikan Academy of Art, University of San Francisco, Amerika Serikat.

Koleksi Toraja Melo tak hanya berupa tas yang harga tertingginya mencapai Rp 1,5 juta, namun juga berbagai produk seperti dompet koin, tempat pensil, dompet dan tas ponsel dengan harga terendah Rp 50.000.

Menurut Dinny, Variasi harga dan produk ini sengaja dihadirkan untuk memberikan lebih banyak pilihan, sekaligus menjangkau lebih banyak segmen pasar. Baik penggemar tenun, pecinta fashion, juga kolektor yang menyukai barang fungsional dengan nilai tambah.

Menggunakan koleksi Toraja Melo, sama sensasinya seperti mengenakan produk bermerek dari luar negeri yang kerap dibanggakan banyak orang. Yakni, Anda takkan memakai tas yang sama, karena setiap produk Toraja Melo memiliki pembeda dan keunikan masing-masing.

"Satu model diproduksi dua lusin, tetapi tidak ada warna yang sama serta kombinasi kulit pada tas juga berbeda. Tas ini memang diproduksi limited edition, bukan mass production," jelas Dinny, sekaligus menerangkan koleksi Toraja Melo berhasil memenuhi selera dan standar kualitas produk masyarakat Jepang, saat Toraja Melo berpameran di Tokyo Internasional Gift Show 2011.

http://female.kompas.com/read/2012/02/13/19511042/Belanja.Online.Koleksi.Terkini.Toraja.Melo

Singapura Tertarik Bisnis Pariwisata Tana Toraja


Reuters/Yusuf Ahmad/vgMAKASSAR--MICOM: Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Singapura mempertajam peluang kerja sama di berbagai bidang, terutama perdagangan dan pariwisata.

Hal tersebut dikatakan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang di Makassar, Rabu (25/4) malam, usai menerima Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Singapura Masagos Zulkifli dalam jamuan makan malam di rumah jabatan Gubernur Sulsel.

Kunjungan wakil pemerintah Singapura itu sekaligus untuk mempertajam bentuk-bentuk kesepakatan yang sebelumnya telah dibuat melalui kunjungan kerja Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo ke negara tersebut.

"Mereka tertarik dengan potensi pariwisata di beberapa daerah seperti fasilitas lapangan golf serta wisata alam dan budaya di Tana Toraja dan meminta kami untuk menawarkan," katanya.

Di bidang perdagangan, lanjut dia, Singapura membutuhkan banyak ikan-ikan segar. "Saya bilang kami sudah ekspor cuma perlu ditambah lagi," ujarnya.

Wakil Gubernur juga mengusulkan agar Pelabuhan Makassar menjadi titik terakhir distribusi agar perputaran perdagangan lebih cepat

Hotel Toraja Misiliana Sarat Nuansa Toraja

MENGINAP di hotel sambil menikmati keunikan budaya Toraja dapat Anda peroleh di Hotel Toraja 
.
torajamisiliana.com

Hotel tersebut berlokasi di Jalan Pongtiku Nomor 27, Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Hotel yang berdiri sejak 1980 ini merupakan milik keluarga lokal Toraja dan menawarkan atmosfer yang sangat nyaman sehingga Anda akan merasa seperti berada di rumah sendiri. Sebelumnya hotel hanya memiliki lima kamar, namun kini tersedia sebanyak 101 kamar tamu yang didesain dengan kombinasi bernuansa internasional dan tradisional khas Toraja.

Untuk kamar hotel terbagi dalam beberapa jenis, yaitu superior room, cottage room, junior suites, oresidental suites, dan Toraja suites yang didesain khusus dalam bentuk rumah tradisional Toraja (tongkonan).

Setiap kamar memiliki pemandangan luar biasa dari taman yang indah dan panorama pantai yang meneduhkan. Lokasi hotel yang berada di pusat Toraja memudahkannya untuk diakses menggunakan angkutan umum. Hotel juga berdekatan dengan obyek-obyek wisata.

Fasilitas hotel, diantaranya Tabang & Santung Restaurants, ruang rapat berkapasitas 250 orang, mini bar di setiap kamar, lapangan tenis, kolam renang, internet, room service, tempat belanja Toraja Misiliana, layanan dokter 24 jam, laundry, dan pijat spa tradisional.

Tersedia pula sebuah ballroom yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk melangsungkan pesta pernikahan dengan kapasitas tamu mencapai 750 orang.

Saat menginap di Hotel Toraja Misiliana Anda akan memperoleh pengalaman menikmati indahnya kebudayaan Toraja yang dikombinasikan dengan pelayanan hotel berkualitas tinggi. Info selegkapnya mengenai hotel bisa didapat pada laman: www.torajamisiliana.com
http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2012/01/10/3493/5/Hotel-Toraja-Misiliana-Sarat-Nuansa-Toraja

Jumat, 20 Juli 2012

Ritual Membersihkan Jenazah Suku Toraja



Quote:
Tana Toraja di Sulawesi Selatan sudah lama terkenal dengan alam pegunungannya yang permai serta ritual adatnya yang unik. Yang paling tersohor, tentu saja, pesta Rambu Solo yang digelar menjelang pemakaman tokoh yang dihormati.

Tiap tahun pesta yang berlangsung di beberapa tempat di Toraja ini senantiasa mengundang kedatangan ribuan wisatawan.Selain Rambu Solo, sebenarnya ada satu ritual adat nan langka di Toraja, yakni Ma’ Nene’, yakni ritual membersihkan dan mengganti busana jenazah leluhur.

Ritual ini memang hanya dikenal masyarakat Baruppu di pedalaman Toraja Utara. Biasanya, Ma’ Nene’ digelar tiap bulan Agustus. Saat Ma’ Nene’ berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena upacara.

Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru.Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian keluarga besar.

Ritual Ma’ Nene’ oleh masyarakat Baruppu dianggap sebagai wujud kecintaan mereka pada para leluhur, tokoh dan kerabat yang sudah meninggal dunia. Mereka tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.

Asal Muasal Ritual Ma’ Nene’ di Baruppu

Kisah turun-temurun menyebutkan, pada zaman dahulu terdapatlah seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek. Saat sedang berburu di kawasan hutan pegunungan Balla, bukannya menemukan binatang hutan, ia malah menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan, terlantar, tinggal tulang-belulang.

Merasa kasihan, Pong Rumasek kemudian merawat mayat itu semampunya. Dibungkusnya tulang-belulang itu dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek melanjutkan perburuannya.

Tak dinyana, semenjak kejadian itu, setiap kali Pong Rumasek berburu, ia selalu memperoleh hasil yang besar. Binatang hutan seakan digiring ke dirinya. Bukan hanya itu, sesampainya di rumah, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawahnya pun sudah menguning, bernas dan siap panen sebelum waktunya.

Pong Rumasek menganggap, segenap peruntungan itu diperolehnya berkat welas asih yang ditunjukkannya ketika merawat mayat tak bernama yang ditemukannya saat berburu. Sejak itulah, Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma’ Nene’.

Dalam ritual Ma’ Nene’ juga ada aturan tak tertulis yang mengikat warga. Misalnya, jika seorang istri atau suami meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma’ Nene’ untuknya.

Ketika Ma’ Nene’ digelar, para perantau asal Baruppu yang bertebaran ke seantero negeri akan pulang kampung demi menghormati leluhurnya.

Warga Baruppu percaya, jika Ma’ Nene’ tidak digelar maka leluhur juga akan luput menjaga mereka. Musibah akan melanda, penyakit akan menimpa warga, sawah dan kebun tak akan menghasilkan padi yang bernas dan tanaman yang subur.
Gambar :






http://forum.viva.co.id/sosial-dan-budaya/379446-ritual-membersihkan-jenazah-suku-toraja.html

Senin, 02 Juli 2012

kamus indonesia-toraja



Kepala

Kepala ==> ulu
Kepalanya ==> ulunna (ulu+na)
Sakit kepalanya ==> masaki ulunna
Sakit kepalaku ==> masaki ulungku (ulu+ku)

Lapar

Lapar ==> tangdia' ==> tang dia'
dia' <== kenyang
tang <== tidak
tang dia' <== tidak kenyang
Jadi kata lapar dalam Bahasa Toraja yakni tangdia' artinya tidak kenyang

Kabar

Kabar ==> kareba
Kabar baik ==> kareba melo
Apa kabar ? ==> apa kareba ?
Apa kabar kawan ==> apa kareba sangmane ? (untuk pria)
Apa kabar kawan ==> apa karena sangbaine ? (untuk perempuan)

Cari

Cari ==> daka'
Mencari ==> mandaka'
Mencari ==> undaka'
Mencari pekerjaan ==> undaka' jamaan
Mencari uang ==> undaka' seng

Terlambat

Terlambat ==> kaundian ==> ka undi an
Kata dasar : undi
undi <== yang menyusul dibelakang
Sehingga kata terlambat setara dengan kata kaundian dalam Bahasa Toraja yang jika diartikan secara harafiah artinya : kondisi membuat saya datang tidak tepat waktu atau datang lewat dari jam yang telah ditentukan

Cium

Cium ==> udung
Mencium ==> mang udung

Tangan

Tangan ==> lima
Angkat tanganmu ==> angka'i limammu

Munculnya 2 huruf m pada kata limammu karena salah satu huruf tersebut hanyalah penghubung kata.
Jika kita mengurai kata tersebut maka :
Tanganmu ==> limamu ==> limammu

Rambut

Rambut ==> beluak
Sudah panjang rambutnya ==> kalando mo beluakna
Rambut panjang ==> beluak kalando


Telinga

Telinga ==> talinga
Telinga dipakai untuk mendengar ==> talinga di pake ma' perangngi

Angka

Angka ==> angka
Angka delapan ==> angka karua
Angka seratus ==> angka saratu'

Jerawat

Jerawat ==> dariala'
Wajahnya jerawatan ==> lindona darialasan

Pipi

Pipi ==> papo
Pipinya merah ==> papona mararang

Bibir

Bibir ==> puduk
Bibir tebal ==> puduk makamban
Bibir tipis ==> puduk manipi'

Dagu

Dagu ==> are

Dada

Dada ==> barangkang
Dadanya sakit ==> barangkang na ma pa'di'

Kasih

Kasih ==> Kamamasean, kamasean
Pengasih ==> mamase

Kasih Tuhan kepada kita ==> Kamamasean Na Puang lako kita
Kasih Tuhan kepada kita ==> Kamasean Na Puang lako kita

Pengemis

Tidak ada pengemis dalam masyarakat Toraja. Yang ada hanyalah masyarakat ekonomi lemah dan secara sepintas terlihat sama dengan masyarakat lainnya. Mereka biasanya menjadi penggarap lahan milik orang lain atau bekerja pada orang yang lebih mampu. Dan sepertinya sudah menjadi tradisi turun temurun bahwa mereka adalah kelompok yang perlu perhatian dari masyarakat yang lebih mampu.
Adanya trend merantau dan bersekolah tinggi dalam masyarakat Toraja semakin menepiskan adanya masyarakat ekonomi lemah yang saya maksudkan.
Masyarakat Toraja sendiri menyebut kelompok ekonomi lemah yang saya maksudkan dengan istilah
==> to mase mase
Di mana istilah ini tidak bisa disamakan dengan pengemis yang menengadahkan tangan di pinggir jalan di mana sejauh yang saya lihat tidak ada di Toraja.

Iba

Iba ==> ma'sek, mamasseng
Saya jadi iba melihatnya ==> Mamasseng na' untiroi

Kantuk

Kantuk ==> karru'du'
Mengantuk ==> tikkarru'du'
Saya sangat mengantuk ==> aku tarru' tikkaru'du'

Senyum

Senyum ==> kummu'
Senyum ==> metaa kummu'
Tersenyum ==> tikummu'
Tersenyum senyum ==> tikummu' kummu'

Senyum dianggap bagian atau salah satu jenis dari tertawa. Sehingga senyum (kummu') biasanya didahului dengan kata metaa sehingga secara harafiah metaa kummu' artinya adalah tertawa senyum

Hidup

Hidup ==> tuo
Kehidupan ==> katuoan, katuan
Kehidupan dalam dunia ==> katuan lan lino
Kehidupan baru ==> katuan ba'ru
==> katuan baru

Cuma

Cuma ==> manna
Cuma kamu ==> iko manna
Cuma aku ==> aku manna
Cuma aku yang datang ==> aku manna to sae

Sepi

Sepi ==> makarorrong
Sepi ditinggal ==> makorrong ditampe
Sepi sendiri ==> makorrong misa misa
Kesepian ==> makarorrong


Ulang

Ulang ==> tole
Ulangi ==> tolei
Diulang ==> ditole

Selamat

Selamat ==> salama'
Selamat pagi ==> salama' melambi'
Selamat malam ==> salama' ma bongi
Selamat natal ==> salama' natal
Selamat ulang tahun ==> salama' allo kadadian

Intai

Intai ==> amu'
Mengintai ==> mangamu'

Anggur

Anggur ==> anggoro'

Malam

Malam ==> bongi
Selamat malam ==> bongi melo
Siang malam ==> allo bongi
Tengah malam ==> tangnga bongi
Larut malam ==> lendu' bongi

Kita

Kita ==> kita

namun dalam pemakaian kata kita terkadang berubah menjadi ta.

Contoh :
Kita akan mulai acara ini ==> Kita la umparanduk mi te acara
Kita berdoa ==> ta massambaya

Supaya

Supaya ==> an

Kata ini merupakan kata penghubung antar dua kalimat sebagaimana dalam bahasa Indonesia, kata "supaya" juga merupakan kata penghubung.

Dengan demikian kata ini akan diikuti oleh subjek kalimat berikutnya yakni :

na
ku
ki
mu
mi
ta

na adalah kata ganti orang/benda ketiga. Bisa tunggal, bisa pula jamak.

ku adalah kata ganti orang pertama tunggal

ki adalah kata ganti orang pertama jamak

mu adalah kata ganti orang kedua tunggal

mi adalah kata ganti orang kedua jamak dan juga kata ganti orang kedua tunggal khusus buat orang yang lebih dihormati

ta adalah kata ganti orang pertama jamak

kata an tidak berubah jika diikuti kata na dan ta namun akan berubah bentuk menjadi :

am jika diikuti kata mu dan mi
ang jika diikuti kata ki dan ku

Contoh :
Minum obat ini supaya engkau sembuh ==> Iru'i te pedampi am mu maleke
Suruh dia minum obat ini supaya dia sembuh ==> Sua pi uniru'i te pedampi an na maleke
Mari kita minum obat ini supaya kita sembuh ==> ta iru'i te pedampi an ta maleke
Saya minum dulu obat ini supaya saya sembuh ==> Ku iru'pi dolo te pedampi ang ku maleke


Sehingga

Sehingga ==> an
Sehingga dia pergi ==> an na male

Kata ini merupakan kata penghubung antar dua kalimat sebagaimana dalam bahasa Indonesia, kata "sehingga" juga merupakan kata penghubung.

Dengan demikian kata ini akan diikuti oleh subjek kalimat berikutnya yakni :

na
ku
ki
mu
mi
ta

na adalah kata ganti orang/benda ketiga. Bisa tunggal, bisa pula jamak.

ku adalah kata ganti orang pertama tunggal

ki adalah kata ganti orang pertama jamak

mu adalah kata ganti orang kedua tunggal

mi adalah kata ganti orang kedua jamak dan juga kata ganti orang kedua tunggal khusus buat orang yang lebih dihormati

ta adalah kata ganti orang pertama jamak

kata an tidak berubah jika diikuti kata na dan ta namun akan berubah bentuk menjadi :

am jika diikuti kata mu dan mi
ang jika diikuti kata ki dan ku

Contoh :
Sehingga dia pergi ==> an na male
Sehingga kami pergi ==> ang ki male
Sehingga aku pergi ==> ang ku male
Sehingga kau pergi ==> am mu male
Sehingga kalian pergi ==> am mi male

Milik

Milik ==> ampu
Pemilik ==> to unnampui
Siapa pemilik rumah ini ==> Inda tu unnampui te banua

Cucu

Cucu ==> ampo
Beranak cucu ==> keampo keanak ==> beranak atau

Telan

Telan ==> amma'
Menelan ==> mamgamma'

Tabur

Tabur ==> ambo'
Menabur ==> mangambo'
Menabur benih ==> mangambo' banne

Agama

Agama ==> aluk
Agama asli ==> aluk to dolo

Matahari

Matahari ==> mata allo
hari ==> allo
hari ini ==> allo totemo

Harga

Harga ==> angga'
Harga kerbau ==> angga' tedong
Harganya seribu rupiah ==> angga'na sang sa'bu ruppia

Beli

Beli ==> alli
Membeli ==> mangalli
Membeli rumah ==> mangalli banua

Antara

Antara ==> alla'
Antara langit dan bumi ==> alla'na langi' na lino

Tikar

Tikar ==> ampa', ale

Gendut

Gendut ==> tarru malompo
Gemuk ==> malompo


Apa Kabar

Apa Kabar ==> Apa kareba
Sehat-sehat kan ? ==> malapu' lapu' sia ko mi

Doa

Doa ==> passambayangan
Berdo'a ==> massambayang
Doakan ==> passambayangan ni

Selalu

Selalu ==> bang, tontong
Selalu menangis ==> tumangi' bang
Selalu berdo'a ==> massambayang bang
Aku selalu berdo'a ==> aku tontong massambayang
Aku selalu berdo'a ==> massambayang bang na'

Selamat

Selamat ==> salama'
Selamat sampai ==> salama' rampo
Selamat malam ==> salama' mabongi

Kudus

Kudus ==> masallo'
Roh Kudus ==> Penaa Masallo'

Sunyi

Sunyi ==> makarorrong
Sunyi seorang diri ==> makarorrong misa-misa
Negeri yang sunyi ==> tondok makarorrong

Malam

Malam ==> bongi, mabongi
Bermalam ==> ma' bongi
Selamat malam ==> bongi melo
Kemalaman ==> kabongian
Tengah malam ==> tangnga bongi

Ini

Ini ==> ya te'
Rumah ini ==> banua ya te'
Ini yang saya maksud ==> ya te' ku sanga

Itu

Itu ==> ya to' lan (menunjuk ke dalam, seperti ke dalam rumah)
Itu ==> ya to' da (menunjuk ke "sana")
Itu ==> ya to' do (menunjuk ke atas)
Itu ==> ya to' yong (menunjuk ke bawa)


Seperti

Seperti ==> susi
Seperti yang saya maksud ==> susi to ku sanga
Seperti itu ==> susi to'

Jangan

Jangan ==> andi'
Jangan kau ambil ==> andi' mu alai
Jangan menangis ==> andi' tumangi'

Apa

Apa ==> apa
Kalian sedang apa ==> mangapa ko mi

Saudara

Saudara ==> siulu'
Bersaudara ==> massiulu'
Kita semua bersaudara ==> Kita massiulu' sola nasang

Terima

Terima ==> tarima
Terima kasih ==> kurre sumanga'

Sangat

Sangat ==> tarru'
Sangat besar ==> tarru kapua
Sangat besar ==> kapondang

Cantik ==> magaratta'
Sangat cantik ==> tarru' magaratta'
Sangat cantik ==> magarattak

Saya sangat sayang kamu ==> tarru' ku pakaboro' ko


Kangen

Kangen ==> mamali'

Semua

Semua ==> mintu'
Semuanya ==> mintu' na
Semua orang ==> mintu' tau
Kita semua ==> mintu' ki'

Miskin

Miskin ==> kalala'
Orang miskin ==> to kalala'
Peminta-minta ==> to mase mase

Kaya

Kaya ==> sugi'
Orang kaya ==> to sugi'

Darah

Darah ==> rara
Berdarah ==> kerara, merara
Darah kerbau ==> rara tedong
Darah babi ==> rara bai
Darah manusia ==> rara tau

Dekat

Dekat ==> mandappi'
Sudah dekat ==> manadappi'mo
Dekat sekali ==> mandappik
Berdekatan ==> sikandappi'

Jauh

Jauh ==> mambela
Jauh sekali ==> tarru' mambela, mambe'lak
Rumah saya jauh ==> mambela banuang ku
Berapa kilo jauhnya ? ==> pira kilo mambalen na

Susah

Susah, sulit ==> masussa, masuli'
Susah sekali ==> masussak, tarru' masussa
Sulit sekali ==> masullik, tarru masuli'

Gampang

Gampang, mudah==> maraa, marawa
Gampang sekali, mudah sekali ==> marawwang, tarru maraa, tarru marawa
Soalnya gampang ==> maraa ri soal na

Kemarin

Kemarin ==> sangmai'
Kemarin malam ==> sangmai' bongi
Kemarin siang ==> sangmai' tangallo

kalian bisa lihat yang lain pada http://kamus-toraja.blogspot.com/

Senin, 18 Juni 2012

SYAIR MEMBANGUNKAN MAYAT DI TORAJA




Ma’nene’ ialah upacara di sekitar kubur, dengan membersihkan liang kubur, memberikan persembahan kepada arwah leluhur, mengganti pakaian baru bagi jenazah apabila bungkusnya sudah tua, dan mengganti pakaian tau-tau yang sudah lapuk. Upacara ini dilaksnakan sesudah panen. Di beberapa daerah ritus itu merupakan kelengkapan dari ARS (Aluk Rambu Solo’) dan dilaksanakan sesudah panen berikutnya sesudah pemakaman. Sementara itu di beberapa daerah lainnya ritus ini tidak rutin artinya acara ini dilaksanakan menurut kesempatan entah setahun berikutnya atau beberapa tahun kemudian. Untuk beberapa daerah lainnya kesempatan ini dipergunakan untuk menyusulkan atau menambah korban persembahan bagi mereka yang telah dikubur. Di Pantilang upacara ini disebut “Ma’To’longgi”, atau “Ma’pundu”, Di Baruppu’ disebut “Ma’Nene”, Di Sa’dan disebut “Ma’Palin”.Berikut adalah Syair untuk mengundang arwah, yang diucapkan atau di lantunkan oleh Tominaa:

Iate to mamma’ lan batu dilobang
To matindo lan kumila’ kalle-kallean
La kutundanpakomi susi to mamma’
La kuruyangpakomi ten to matindo
Kamumo te la kisassan kapuran pangan
Kamumo te la kiserekan passambako-bakoan
Anna bo’bo’ ditoding kuni’
Anna rido ditanda mariri’
Sia ma’bayu ka’pun
Bonde tang ketanda-tanda
Dadi limbongmokomi indete rampe matampu’
Tasikmokomi inde kabotoan kulla’
Ammi arru’i te pa’dunna bai
Ammi papassudi te tanda I’lanna to massali tallang
Anna mammi’ mipatobang di kollong do likaran biang
Anna marasa miparonno’ di baroko do sellukan tille
Kukua mangkamokomi ditandan allu’ lan kapuran pangan
Upu’mokomi ditandan pepasan lan pelamberan baulu
Tae’mokomi la salian rinding
Tang deganmokomi la leko’na minangan banua
Dadi la kumandemokomi massola nasang
Anggemmi tokiporara rarana
La tumimbu’na tokipolamba’ makaise’na
Angki kandei ra’dak barokomi te kami lolo kandauremi
Kipopamuntu tang ti’pekki massola nasang.


Terjemahan Bebas


Hai Engkai yang tidur dalam liang batu
Yang bersemayam dibalik tubir batu yang mengagumkan
Akan kubangunkan engkau layaknya orang tidur
Akan kuguncang engkau seperti yang lelap
Bagimulah kami menyiapkan sirih dan pinang
Untukmulah tembakau disajikan
Dan nasi bertanda kunyit
Dan rejeki berwarna kuning
Dan babi berbaju polos
Babi tak punya bintik
Berkumpullah engkau sebanyak-banyaknya di sebelah barat
Berhimpunlah tanpa batas di ufuk matahari terbenam
Hendaklah engkau menyantap empedu babi ini
Runcingkanlah bahagian dalamnya
Untuk mereka yang mencari kedamaian
Supaya lesat dijatuhkan ke leher di atas tempat persembahan dari gelagah
Supaya sedap melewati kerongkongan di atas anyaman pimping berisi persembahan
Seperti yang kukatakan bagimu, waktu telah kutetapkan
Untuk menerima persembahan kapur sirih
Telah menerima ketentuan saat meneriman lembaran daun sirih
Tak ada lagi kalian yang berada di luar dinding
Tak ada lagi dibalik birai-birai rumah
Jadi hendaklah engkau semuanya makan
Sekalian menglirkan darahnya kepada kami
Kalian yang darahnya mengalir dalam tubuh kami, santaplah
Supaya kami anak cucumu makan yang sisa
Supaya beranak cucu layaknya rumpun bambu
Merambak bagaikan rumpun aur.


Bagi masyarakat Baruppu’ upacara ma’nene’ merupakan upacara tahunan yang dilaksanakan sesudah panen. Ia merupakan upacara massal bagi seluruh keluarga Baruppu baik yang tinggal di kampung maupun yang berada di luar daerah. Oleh karena itu kesempatan ini dimanfaatkan pula sebagai sarana untuk mengadakan reuni keluarga, reuni masyarakat Baruppu’ terutama bagi perantau. Karena ma’nene’ adalah penghormatan bagi seluruh arwah yang jenazahnya berada di dalam liang batu di Baruppu’ sehingga upacara ini meliputi seluruh orang Baruppu’. Ketika diadakan pemakaman dulu, mungkin banyak keluarga yang tidak sempat hadir karena berada di luar daerah, maka pada kesempatan inilah mereka luangkan waktunya untuk menyatakan dukacitanya. Jenazah di baruppu’ tidak boleh disimpan lebih dari 5 malam untuk menunggu keluarga jauh. Pada upaca ma’nene’ itulah kesempatan para perantau atau keluarga untuk pulang kampung mengadakan reuni.
Bagi janda/duda baru (yang baru satu tahun dikuburkan) pada kesempatan inilah dilaksanakan aluk perpisahan dengan almarhum suami atau istrinya, artinya dalam satu tahun terakhir itu, mereka (suami/istri) masih merasa bersama-sama, walaupun dalam dunia nyata tidak seperti itu. Sebelum jenazah suami atau istri dimasukkan kembali ke dalam liang kubur, Tominaa mengucapkan ritus perpisahan antara almarhum dengan janda atau dudanya sebagai berikut :

La diannamoko tama batu dilobang
La sangtongkonanmoko topada tindo
Mintu’ nene’ tepo a’pa, tepo karua, daluk sangpula anna
La mendapo’moko napatudu lalan tepo a’pa’mu
Mupatudu lalanni te balimmu anna mendapo’
Manassamoko piak lindo masakke
La situlak-tulakmoko keallo kebongi
La mupatudu lalan lumbang rokko padang
La pakandean manuk la dedekan palungan
La rendenan tedong nang la iko napassarei
La mupatudu lalan tang sipaboringan kada
Dipapada lando dipasiboko’ rinding dipasisa’de minanga
La muoli’ lan patudu lalan
Kiolo dukako kerokkoan padang
Na kendek buranna padang
Na lambi’oi dipatamako kapuran pangan
Ma’pamasakke ma’pakianak
Ammu kianak sola nene’ todolomu
Angki kianak ma'kepak patomali

The Rafting On The Sa'dan River




TORAJA adalah surga bagi penggemar arung jeram (whitewater rafting). Daerah ini memiliki sungai besar bernama Sungai Sa'dan yang sangat menantang. Adrenalin Anda tidak hanya dipompa, tapi juga disuguhi panorama indah. Sambutlah tantangan arung jeram di Sungai Sa'dan.
Lokasi
Titik awal pengarungan dimulai dari jembatan gantung di Desa Buah Kayu. Sementara titik akhir jeram berada di Jembatan Pappi, Kabupaten Enrekang, yang terletak di sebelah selatan Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Gambaran Umum
Sungai Sa'dan adalah sungai terbesar di Toraja. Lebarnya rata-rata 80 meter dengan panjang mencapai 182 km. Menjulur berliku dari dataran tinggi pegunungan Latimojong ke arah Kabupaten Pinrang di barat daya Kabupaten Tana Toraja. Pemandangan di sisi kiri dan kanan sungai sungguh indah.
Menurut pengklasifikasian jeram, Sungai Sa'dan memiliki jeram kelas empat. Maksudnya, sangat sulit, aliran sungai berjeram panjang berturut turut dan berombak kuat, tak beraturan dan banyak batuan yang membahayakan, pusaran air yang berbuih buih, dan lintasan sulit diintai.
Bahkan ada satu jeram, yaitu Jeram Fitri yang memiliki tingkat jeram lima. Jeram ini berupa patahan dengan aus deras yang menabrak batu besar. Jika tak cukup piawai, perahu dapat menempel di batu dan terjebak di sana.
Karena itu, berarung jeram di Sungai Sa'dan tidak hanya membutuhkan keberanian melainkan juga kepiawaian. Akan sangat berguna jika awak perahu berpengalaman dan memiliki perlengkapan yang terbaik.
Ada dua operator yang mengelola wisata arung jeram. Kedua operator ini menyediakan river guide yang sangat berpengalaman dan menguasai medan jeram. Operator jeram tersebut adalah:
Sobek Expedition, sebuah perusahaan waralaba Amerika Serikat yang juga mengelola wisata rafting di Bali dan Aceh. Perusahaan ini adalah perintis arung jeram di Sungai Sa'dan.
Indo Sella Expedition, sebuah perusahaan yang dikelola oleh kampiun kayak Indonesia yang mengantongi lisensi American Whitewater Association, Agus Lamba.
Ada belasan jeram besar, antara lain Jeram Puru, Jeram Photo Stop, Jeram Lantak lantak, Jeram Nusa, Jeram Lolok, Jeram Fitri, dan Jeram Pembuangan Seba. Jeram yang terakhir paling berbahaya karena selain panjang dan bertebing di kiri dan kanan, juga terdapat under cut yang besar dan dalam.
Akses
Perjalanan dari Rantepao membutuhkan waktu sekitar tiga jam ke lokasi titik awal jeram. Dapat ditempuh dengan kendaraan jip yang disediakan operator arung jeram.
Tarif
Biaya untuk wisata arung jeram ini Rp.1.250.000 per orang.


Londa


Londa adalah kuburan yang berupa gua alam. Gua ini memiliki kedalaman sekitar 1000 meter, gelap, di beberapa tempat naik turun cukup terjal, dan sebagian hanya memiliki ketinggian sekitar 1 meter sehingga orang harus membungkuk melewatinya. Di dalam gua terdapat ratusan tengkorak dan ribuan tulang belulang yang sebagian sudah berumur ratusan tahun. Banyak juga peti-peti mati yang masih baru. Udara di dalam gua terasa sejuk, tidak pengap ataupun berbau meskipun di dalam gua terdapat banyak mayat. Untuk menuju Tana Toraja dari Jakarta, anda dapat menggunakan pesawat terbang menuju Makassar sekitar 2 jam penerbangan. Sesampainya di Bandara Sultan Hasanuddin.

Makassar, anda dapat melanjutkan perjalanan menuju Tana Toraja. Jika mengunakan pesawat udara dari Makassar menuju Bandara Pongtiku di Toraja, hanya membutuhkan waktu 40 menit penerbangan. Itupun, penerbangan menuju Toraja hanya dijadwalkan 2 kali dalam seminggu. Namun jika menggunakan jalur darat, anda dapat menggunakan bus umum dari kota Makassar menuju Makalele, pusat kota Tana Toraja. Perjalanan dari kota Makassar menuju Makalele membutuhkan waktu lebih kurang 8 jam perjalanan melintasi jalur berbukit.

Kunjungan kita di Tana Toraja kali ini yakni Goa Londa. Londa merupakan goa alam yang dijadikan tempat pemakaman para leluhur Tana Toraja. Goa ini terletak di desa Sandan Uai, kecamatan Sanggalangi, sekitar 7 kilometer dari pusat kota Makalele, Toraja. Untuk lebih mempermudah perjalanan menuju Goa Londa, anda dapat menggunakan jasa dari beberapa biro perjalanan yang tersedia di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Sekitar 30 menit perjalanan mengunakan angkutan umum atau mobil sewaan dari kota Makalele, tibalah anda di Goa Londa. Di Tana Toraja, Goa Londa dianggap sebagai tempat yang dikeramatkan. Meskipun demikian, siapa saja termasuk anda dapat berkunjung ke goa ini. Namun sebelum menelusuri Goa Londa lebih jauh lagi, anda diwajibkan untuk menjalankan beberapa aturan adat yang berlaku di tempat ini. Aturan terpenting yang harus dipatuhi yakni anda tidak diperkenankan untuk memindahkan ataupun mengambil tulang manusia meskipun tulang itu tampak berserakan di sudut goa. Jika berkenan, anda dapat membawa sesaji seperti sirih, pinang, serta aneka bunga sebagai permohonan ijin kepada leluhur.
Sebelum masuk ke dalam mulut goa, anda dapat melihat beberapa buah Tau-tau yang diletakkan berderet di puncak Goa Londa. Dalam bahasa Tana Toraja, Tau-tau diartikan sebagai patung dari jenasah yang dimakamkan di dalam Londa. Konon, Tau-tau awalnya hanya dibuat untuk menentukan jenis kelamin mendiang. Jika yang meninggal kaum perempuan Toraja, Tau-tau dibuat sedemikian rupa mirip seorang wanita dan dilengkapi dengan baju wanita khas Toraja.
Jika yang meninggal lelaki, patung Tau-tau dilengkapi dengan pakaian lelaki adat Toraja. Namun kini, Tau-tau dibuat sedemikian rupa hingga terlihat mirip dengan wajah mendiang. Seringkali, di Tau-tau itu juga disertakan harta benda kesayangan dari jenasah yang dimakamkan di Londa. Untuk melihat daya tarik dari Londa lebih dekat lagi, anda dapat menelusuri goa yang panjangnya mencapai seribu meter ini dengan berjalan kaki.
Sebelum menelusuri goa ini, anda dapat membeli tiket di loket masuk Goa Londa. Untuk mempermudah langkah anda selama berada di dalam goa, disarankan untuk membawa lampu penerangan, seperti senter. Jika tidak, anda dapat menggunakan lampu berbahan bakar minyak tanah atau petromak yang disewakan dengan harga berkisar 20 ribu rupiah per unit.
Tidak terlalu jauh dari pintu masuk Goa Londa, anda dapat menjumpai beberapa erong. Erong merupakan peti mati khas Toraja yang tertanam di dinding goa. Hingga kini, di dalam erong itu juga masih tersimpan tulang dari jenasah yang konon telah meninggal ratusan tahun lalu. Di dinding goa yang tersusun dari batu kapur itu terdapat beberapa buah erong. Tinggi dari setiap erong yang tertanam di dinding Goa Londa tidaklah sama. Semakin tinggi derajat atau status sosial dari sang mendiang, semakin tinggi pula posisi peletakan peti matinya.
Ketika berada di dalam goa, anda dapat menjumpai puluhan tengkorak dari kepala manusia yang terlihat berserakan di setiap sudut goa. Bagi anda yang belum pernah melihat kondisi Goa Londa, suasana di goa ini terasa cukup mencekam. Namun bagi anda yang gemar berpetualang, suasana mencekam itu justru dijadikan ciri khas tersendiri dari Goa Londa. Anda tertarik untuk mengetahui jenasah siapa saja yang dimakamkan di Goa Londa? Para pemandu wisata Goa Londa siap membantu anda.
Dalam waktu tertentu, masyarakat Tana Toraja datang ke Goa Londa untuk ziarah ke makam para leluhur mereka. Ketika berada di dalam goa, mereka tak hanya berdoa, melainkan juga mempersembahkan sesaji, seperti sirih, pinang, serta aneka bunga. Seringkali, mereka membawa sesaji yang diyakini sebagai kesukaan dari sang mendiang, seperti rokok, sepiring makanan, serta sebotol air putih.
*Berbagai Sumber*

To Manurun dan To Bu’tu Ri Uai: Nenek Moyang To Manurun



Di Tana Toraja, ide To Manurun, mitos yang menceritakan seseorang yang turun dari langit ke puncak-puncak gunung dan menjadi para penguasa lokal, Toraja Tomanurun selalu dipasangkan dengan satu pasangan dengan sama hal-hal yang gaib, seorang wanita yang bangkit ke luar dari suatu kolam/sungai. Kesu mengklaim To Manurun Manurun Di Langi’ adalah nenek moyang yang paling penting, sementara di Tallu Lembangna, Tamboro Langi' (Toma’ Banua ditoke’, Toma’ Tondok dianginni) lebih penting. Bagaimanapun bangsawan-bangsawan dari kedua area ini telah mengklaim bahwa Tomanurun mereka adalah pusat pemerintahan. Mereka tidak sependapat jika ada yang mengatakan bahwa To Manurun berasal dari bagian barat (Ullin).
Salah satu perbedaan yang spesifik adalah tempat dimana pertama kali Tamboro Langi’ diturunkan. Menurut tradisi-tradisi bagian barat, ia turun di Ullin, suatu puncak di daerah Banga, dan membangun rumah di sana dengan istrinya, Sanda Bilik, yang muncul dari pertemuan sungai Sa'dan dan sungai Saluputti. Ullin juga dihubungkan dengan deata, yang dikatakan berkumpul ke sana tiap-tiap tahun setelah panenan.
Bangsawan di Tallu Lembangna, bagaimanapun, cenderung untuk mengaku Tamboro Langi’ tidak diturunkan di Ullin, tapi di Kandora. Beberapa versi mengatakan ia kemudian pindah ke Ullin, dan yang lain bahwa ia hanya di Kandora dan tidak pernah pergi ke barat sama sekali.
Tongkonan Layuk pada tiap area mempunyai kisah – kisah sendiri tentang para nenek moyang dan kejadian-kejadian hal-hal yang gaib. Contoh-contoh yang berikut dikumpulkan di daerah Saluputti, terutama Malimbong. Ullin membentuk suatu segi tiga dengan dua gunung yang lain mencapai puncak yang kelihatan dari Malimbong: Sado'ko' dan Messila. Di samping Tamboro Langi' dari Ullin, nenek moyang penting di silsilah-silsilah Saluputti adalah Gonggang Sado'ko', yang turun di Sado'ko' dan menikah dengan wanita yang muncul dari kolam yang bernama Marrin di Liku. Dalam sebuah cerita Gonggang diklaim sebagai manusia yang pertama di atas bumi di Toraja bagian barat, dan memiliki enam belas anak-anak, sebagian memiliki nama-nama dari dewata-dewata dalam versi Toraja. Alm. Mangesa mantan Kepala Desa Malimbong (1965-71), yang mengakui dirinya keturunan generasi yang ke sebelas dari Gonggang, menurutnya karna memelihara kekuatan supranaturalnya, sehingga Gonggang masih hidup pada waktu invasi Arung Palakka. Tetapi di dalam silsilah-silsilah dari beberapa orang di Ullin, ia bukan To Manurun, tetapi sebagai cucu laki-laki Tamboro Langi'. Gunung yang ketiga, Messila, juga dihubungkan dengan Tomanurun, Kila' Ta'pa ri Ba'tang. {Menurut silsilah mereka yang berasal dari Lion, Rorre dan Lemo, Makale Utara, Puang Kila’ Ta’pa Ri Batang menikah dengan Marring di Liku dan memiliki 4 orang anak masing-masing Sadodo’na’, Batotoi Langi’, Pulio dan Palandangan. Palandangan lalu menikah dengan Batan di Lomben melahirkan Arung (Pangala Tondok di Rorre), Para (Pangala Tondok di Lemo) dan Lembu’bu’ yang kemudian menikah dengan Patantan dan melahirkan Saarongre yang menjadi Pangala Tondok di Lion Tondok Iring.}
Hanya sedikit yang diketahui tentang Tomanurun ini, tetapi menurut Isaak Tandirerung, mantan Camat dari Ulusalu, ia turun agak belakangan dibanding Tamboro Langi'. Ia menikah dengan seorang wanita kolam dan membangun rumah di Messila (yang tidak lagi ada), dan keturunan-keturunannya kemudian mendirikan Tongkonan Pattan, Tongkonan Layuk di Ulusalu, dari mana Isaak berasal.
Di desa Malimbong pada waktu dari ambil alih Belanda, ada dua Tongkonan Layuk yang bersaing mana yang paling utama, Pasang dan Pokko', dekat Sawangan. Silsilah Pasang memulai dengan Gonggang Sado'ko', Pokko dengan nenek moyang yang lain yaitu Pa'doran. Keturunan-keturunan dua Tongkonan ini cenderung untuk memperbesar pentingnya nenek moyang mereka sendiri, selagi menertawakan kisah-kisah tentang yang lain. Pa'doran dikatakan dilahirkan dua generasi setelah Gonggang, tetapi juga memimpin pasukan Gonggang di dalam peperangan melawan terhadap Bone. Ia bukan to manurun, tetapi to mendeata, karena ia telah menerima kuasa-kuasa dari deata dalam mimpi. Ia bisa berjalan beberapa mil-mil di dalam suatu langkah dan mempunyai kekuatan supranatural. Jika ia berdiri di Sado'ko', ia bisa menjangkau Messila di dalam suatu langkah, dan dengan langkah ketiga berada di Ullin.
Beberapa cerita tentang Pa'doran dihubungkan dengan fitur lokal dari daerah sekitarnya. Segala hal yang ia katakan akan terjadi. Ketika ia berkata, "Kerbauku adalah besar", dengan segera menjadi mahabesar, dan ketika ia berkata, "Kerbauku akan membuat suatu gunung dengan tanduknya", kerbau mengombang-ambingkan kepalanya dan menanduk dua kerut yang besar dengan tanduknya. Bukit ini kemudian diberi nama disebut Buttu Susu, suatu daerah di Malimbong. Di dalam versi yang lain, tandukan kerbau itu menjadikan Buttu Susu, Bea dan Matande; galiannya membentuk gunung yang disebut Gattungan, dekat Buttu Susu. Pa'doran tidak pernah menikah. Ia benci untuk busuk pada kematian, dan sebagai gantinya ia menyuruh keluarganya untuk membuat suatu keranjang yang khusus untuk dia. Ia lalu memanjat ke dalamnya dan berubah menjadi batu. Keranjang ini masih disimpan di dalam tongkonan Pokko', dan hanya dapat dilihat jika ada upacara sesaji. Penduduk meyakini bahwa ketika satu gemetaran bumi dirasakan di sini, ini berarti bahwa Pa'doran sedang keluar dari keranjang untuk berjalan-jalan, lalu koin yang berderik terdengar di dalam rumah.
Satu lain kepada manurun di Malimbong dihubungkan dengan tongkonan pada Parinding di Sa'tandung. Batotoilangi' (Muncul dari langit) menikahi seorang wanita yang bernama Mandalan i Limbong, yang muncul dari mata air alami, yang sampai sekarang masih digunakan sebagai mata air oleh penduduk desa di Parinding. Mereka mempunyai delapan anak. Suatu hari, Batotoilangi' diserang oleh bau dari pemangangan daging anjing, dan ia pun kembali ke langit, sedang istrinya kembali ke air. Banyak pamali dihubungkan dengan rumah, tidak hanya memakan daging anjing, tetapi juga tikus (tikus ladang dikonsumsi dibeberapa bagian di Toraja), keong-keong, atau daging dari pemakaman. Juga terlarang untuk meludah di lokasi rumah. Pasangan pendirian hal ini, menurut penghuni- rumah, hidupsekitar sebelas generasi yang lalu, pada waktu yang sama seperti Gonggang Sado'ko'. Sebelum pergi, Batotoilangi' memberitahu orang-orang bahwa mereka akan tahu ia masih di sekitar ketika mereka mendengar guntur atau ketika hujan. Jika seekor ayam dikorbankan di sini, bahkan di musim kemarau, konon gerimis turun. Ketika pelangi, selalu muncul dengan salah satu ujungnya pada lokasi dari rumah yang asli, meregang diatas pohon banyan yang tumbuh di sampingnya. Jika keturunan-keturunan dari rumah melihat suatu pelangi setelah membuat sesaji, ini berarti bahwa Batotoilangi' dan deata sudah menerimanya. Di masa. lalu, tongkonan memiliki banyak budak berkait dengannya, yang semua tinggal di bukit dimana tongkonan itu berdiri.
Tidak susah untuk melihat bagaimana dongeng ini dan kisah-kisah, silsilah-silsilah dijadikan kekuatan politis dari tongkonan bangsawan, yang dilayani untuk mengangkat dan membenarkan status kebangsawanan mereka. kisah – kisah mistik lebih lanjut ditambahkan pada harta benda/pusaka-pusaka rumah ini (sampai para anggota generasi yang lebih muda menyerah kepada godaan untuk menjual sebagian dari barang – barang kepada penyalur-penyalur seni yang internasional). Apakah para pahlawan mereka adalah manusia nyata, atau apakah kisah-kisah itu diciptakan pertama dan nama-nama yang ditempelkan kemudian di dalam silsilah-silsilah, yang mustahil untuk ditebak. Seperti Pa'doran atau Batotoilangi', sudah sangat melokalisir reputasi-reputasi; yang lain seperti Tamboro Langi' atau Laki Padada, mempunyai suatu ketenaran yang menyebar luas dan dihubungkan dengan banyak tongkonan bersama-sama. Hubungan ini pada waktu tertentu dipertunjukkan dan diperbaharui di dalam upacara-upacara, seperti ketika pada Bulan Januari 1983, diatas 100 kelompok keturunan dari tongkonan yang terkenal pada Nonongan yang dikumpulkan untuk merayakan pembangunan rumah tongkonan. Tidak banyak Toraja dapat melacak koneksi-koneksi pada rumah ini dan pendirinya, Manaek, tetapi maka kaleng keluarga-keluarga yang kerajaan dari Luwu', Goa dan Bone, semua mengutus wakil-wakilnya di upacara itu. Pihak Luwu' bahkan membawa seekor babi yang sangat besar. Melalui kehadirannya, mereka mengakui keturunan mereka dari Laki Padada, seperti juga hubungan mereka melalui perkawinan dengan orang golongan lain dengan kebangsawanan Toraja.

To Manurun = Nenek Moyang yang tidak diketahi asal usulnya sehingga selalu dikatakan berasal dari langit ( ade’ nakua tau )
Sumber http://dualembang.multiply.com/journal/item/16

Penyebaran Aluk Sanda Pitunna




Aluk adalah aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mangandung nilai-nilai religius yang mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi kepada Puang Matua. Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam 2 Tahap yaitu :
Tipamulanna Aluk ditampa dao langi’ yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit
Mendemme’ di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi’ dirura. Kedua tahapan ini merupakan mitos.
Selain dari pada itu terdapat Aluk Sanda Pitunna disebarluaskan oleh tiga tokoh, yaitu :
Pongkapadang bersama Burake Tattiu’ menuju bagian barat Tana Toraja yakni ke daerah Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, dengan membawa pranata Sosial yang disebut dalam bahasa Toraja “To Unnirui Suke Pa’pa, to ungkandei kandian saratu” yakni pranata Sosial yang tidak mengenal Strata.
Pasontik bersama Burake Tambolang menuju ke daerah-daerah sebelah timur Tana Toraja, yaitu daerah Pitung Penanian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta’bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan membawa pranata social yang disebut dalam Bahasa Toraja “ To Unnirui’ Suke dibonga, To ungkandei Kandean Pindan”, yaitu prana Sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata social
Tangdilino bersama Burake Tangngana ke daerah bagian tengah Tana Toraja dengan membawa pranata Sosial “To Unnirui’ Suke dibonga, to ungkandei kandean pindan” yaitu pranata social yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosoal. Tangdilino diketahui menikah dua kali, yaitu Buen Manik, perkawinan ini membuahkan delapan anak. Perkawinan Tangdilino dengan Salle Bi’ti’ dari Makale membuahkan seorang anak. Kesembilan anak Tangdilino tersebar keberbagai daerah, yaitu Pabane menuju Kesu’, Parenge menuju Buntao’, Pasontik ke Pantilang, Pote’ Malla ke Rongkong (luwu), Bobonglangi menuju Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, Bue ke daerah Duri, Bengkudu Ma’dandan ke Bala (Mengkendek, Sirrang ke Dangle.

Aluk Sanda Pitunna




Aluk Todolo adalah agama leluhur nenek moyang suku Toraja yang hingga saat ini masih dipraktekkan oleh sejumlah besar masyarakat Toraja. Bahkan pada tahun 1970, Aluk Todolosudah dilindungi oleh negara dan resmi diterima ke dalam sekte Hindu-Bali. Aluk Todolo adalah kepercayaan animisme tua, dalam perkembangannya Aluk Todolo banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran hidup Konfusius dan agama Hindu. Oleh karena itu, Aluk Todolomerupakan suatu kepercayaan yang bersifat politeisme yang dinamistik.

Kepercayaan Aluk todolo ini bersumber dari dua ajaran utama yaitu aluk 7777 (aluk sanda pitunna) dan aluk serba seratus (sanda saratu').

Aluk Sanda Pitunna (aluk 7777) disebarkan oleh Tangdilino' dan merupakan sistem religi yang diyakini oleh orang Toraja sebagai aluk yang diturunkan dari langit bersama-sama dengan umat manusia. Oleh karena itu, Aluk Sanda Pitunna adalah aluk tertua dan menyebar secara luas di Toraja. Sementara itu, Aluk Sanda Saratu' datang kemudian dan disebarkan oleh Puang Tamborolangi', namun Aluk Sanda Saratu' hanya berkembang didaerah Tallu Lembangna (Makale, Sangalla dan Mengkendek).
Aluk Sanda Pitunna bersumber dari ajaran agama (sukaran aluk) yang meliputi upacara (aluk), larangan (pemali), kebenaran umum (sangka') dan kejadian sesuai dengan alurnya (salunna). Aluk sendiri meliputi upacara yang terdiri atas tiga pucuk dan empat tumbuni (aluk tallu lolona, a'pa' pentaunina). Disebut tiga aIuk karena ia meliputi upacara yang menyangkut manusia (aluk tau), upacara yang menyangkut tanam-tanaman (aluk tananan) dan upacara yang menyangkut binatang (aluk patuan) dan dikatakan empat oleh karena di samping ketiga hal di atas ada lagi satu upacara yang disebut upacara suru' berfungsi untuk menembus kesalahan (pengkalossoran).

Wilayah barat

Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini di wilayah barat Tana Toraja yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu’ yang menyebarkan ke daerah Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga, dengan memperkenalkan kepada masyarakat setempat suatu pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja “to unnirui’ suke pa’pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata
sosial yang tidak mengenal strata.

Wilayah timur

Di wilayah timur Tana Toraja, Pasontik bersama Burake Tambolang menyebarkannya ke daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta’bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan memperkenalkan pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : “To Unnirui’ suke dibonga, To unkandei kandean pindan”, yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.

Wilayah tengah

Tangdilino bersama Burake Tangngana menyebarkan aluk ke wilayah tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial “To unniru’i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan”. Sesuai dengan makna dan kandungan yang terdapat di dalam sistem kepercayaan Aluk Todolo, terdapat sejumlah hal yang relevan dengan pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup. Jika ditelusuri jejak referensi adanya konsep pelestarian dan pengelolaan lingkungan hidup bagi orang Toraja, ditemukan bahwa pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup bagi orang Toraja, pertama diatur dalam sistem religi yang ada dan hal itu meliputi hampir seluruh ritus yang dilaksanakan.

Sumber : http://www.torajaindonesia.com